creativity

creativity
karya salah satu muridku :)

Kamis, 03 Januari 2013

Akhir Tahun yang Indah

30 Desember 2011
Langit mendung menggelayuti Jakarta Timur sore ini. Sisa-sisa uap air yang gagal menyusul rekan-rekannya meluruh ke bumi sesiang ini, memberi sensasi dingin yang semakin menusuk kulit. Jalanan masih terlihat basah oleh air, menggenang malah. Membuat orang-orang semakin buru-buru ingin sampai di rumah, berlindung di zona nyaman untuk beristirahat, melepas penat atau apalah.
Tapi gerimis kecil-kecil yang sekarang menghiasi langit Jakarta tak membuat langkah-langkah kecil kami ­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­-anak-anak yang di rantau orang- menjadi surut. Senyum masih menghiasi raut muka kami. Semangat masih menghiasi degup jantung kami. Dan bahagia masih menghiasi perjalanan kami. Hanya ada satu pikiran dalam benak kami, semoga nanti malam kami bisa sampai dengan selamat di Ciganjur, bisa nderek haul guru bangsa kami.
Sembari menuju busway yang akan membawa kami ke daerah Ragunan, kami mengisi dinginnya jalan dengan canda dan guyonan khas kami. Berkelakar tentang hidup, kehidupan, bahkan hal-hal sepele. Mengisi perjalanan ini dengan tawa penuh cerita biar tak didera rasa bosan. Sesekali terdengar gelak tawa dari kami, suara bising jalanan, klakson bajaj yang susul-menyusul dengan klakson oplet, sepeda motor, bis umum dan kendaraan pribadi. Suara-suara ini yang mengiringi langkah kami.
Di kejauhan, di sebuah toko bahan bangunan, sayup-sayup terdengar alunan musik yang tak asing ditelinga kami. Shalawat yang didendangkan Maher zein timbul tenggelam beradu dengan musik jalanan. Semakin kami melangkah, lantunan puji-pujian untuk nabi semakin jelas di telinga kami. Duh,,,betapa dakwah yang dilakukan oleh maher zein sangatlah menakjubkan. Cara dakwah yang mengajak masyarakat untuk mengenal dan mencintai shalawat dengan musik yang familiar, menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat, yang pada akhirnya benar-benar sukses mengangkat derajat shalawat di mata masyarakat umum. Kini shalawat menjadi membumi, menjadi hal yang tidak terkesan kuno dan usang lagi. Shalawat menjadi obat gundah gulana. Shalawat menjadi kebutuhan rohani bagi yang mendengarnya. Berbagai kalangan semakin akrab dengan shalawat. Berbagai kalangan semakin mencintai salawat. Berbagai kalangan semakin menyatu dengan shalawat, barakallah….
Sesore ini, busway dipenuhi oleh lautan manusia dengan berbagai tujuan. Seperti kami, mereka juga terlihat ingin segera sampai tujuan, enggan bergelayutan lama-lama di pegangan busway. Satu dua orang turun di shelter bus berikutnya. Beberapa orang berebut bangku bekas penumpang yang turun barusan. Seorang pria mempersilahkan ibu yang sedang menggendong anaknya untuk duduk duluan. Seorang pria lagi terlihat enggan menyerahkan bangku empuknya dan harus terpaksa berdiri. Kondektur berdiri di samping pintu geser, mengingatkan lagi peraturan baru busway tentang area khusus wanita yang masih banyak dilanggar. Kami masih asyik dengan kelakar kami. Sampai-sampai lupa dengan volume suara yang semakin meninggi. “Ragunan…Ragunan….” Teriak kondektur mengingatkan penumpang. Kami telah sampai tujuan. Buru-buru kami melangkah keluar dari busway, menuju ke shelter Ragunan dan melanjutkan perjalanan ke Ciganjur.
Hari sudah gelap ketika kami sampai di Ciganjur. Tapi suasana ramai tampak jelas terlihat dari jalan gang. Pedagang dadakan berjejer memenuhi kanan-kiri jalan, menambah marak suasana haul ini. Langkah kami mantap menuju majelis. Para penerima tamu, putra-putri telah berjejer rapi menyambut hangat tamu-tamu yang datang berberondong. Rombongan kami pun terpisah menjadi dua. Kami memilih duduk di depan masjid Al-Munawwaroh, melihat podium dari layar LCD proyektor yang disediakan oleh panitia. Tak menyia-nyiakan waktu yang ada, kami ikut larut dalam sambutan-sambutan hangat dari keluarga sohibul bait, teman-teman Gus Dur. Sahabat-sahabat yang datang, memberikan sepatah-dua patah kalimat yang sarat pesan. Bercerita tentang pengalaman hidup bersama Gus Dur. Bercerita sedikit banyak tentang potret Gus Dur. Bercerita tentang pandangan hidup Gus Dur yang banyak memberi inspirasi. Tapi kantuk semakin menyerang pertahanan kami. Satu-dua dari kami berguguran. Sepertinya lelah karena perjalanan lebih berjaya daripada dorongan hati untuk tetap terjaga mengikuti majelis. Hingga sampai pada puncak acara, wayang kulit yang dibawakan oleh dalang dari wayang kampung sebelah begitu menyita perhatian majelis. Mendengar banyak tawa yang membahana membuat kami sontak terbangun. Penasaran dengan sajian yang menghibur ini, kesadaran kami perlahan muncul. Memang kocak dan menghibur sajian wayang kampung sebelah. Sentilan-sentilan terhadap penguasa negeri ini begitu mengena. Sindiran-sindiran terhadap degradasi masyarakat juga begitu pas, tanpa unsur menggurui. Sangat realistis menggambarkan kehidupan dewasa ini, wangun kata orang jogja bilang…..
Akan tetapi tak sampai selesai, kami menyudahi menonton pertunjukan wayang kulit ini. Rasa lelah yang sedari tadi menyerang kami sekarang sudah tidak bisa ditolerir lagi. Dengan langkah gontai kami menuju gedung yayasan yang disediakan untuk tempat beristirahat kami. Sudah saatnya melepas penat. Esok pagi kami harus kembali ke asrama Kayu Putih -rumah animasi kami- untuk melanjutkan kehidupan sehari-hari kami. Selamat Istirahat kawan......=)
-naa-