creativity

creativity
karya salah satu muridku :)

Label

Tampilkan postingan dengan label refleksi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label refleksi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 26 Maret 2016

26: Semoga Mendapatkan Kemuliaan

Tanggal lahir Bapak yang tertera di KTP adalah 26, Bulan sekian, Tahun sekian. Selama bertahun-tahun, tanggal itu dijadikan identitas penanda lahir beliau. Baru beberapa tahun belakangan ini, Kami mengetahui kalau tanggal lahir dan bulan lahir yang ada di KTPnya salah. Maklum, jaman dulu, orang tua tidak peduli dengan tanggal lahir. Karena sudah terlanjur salah kaprah, identitas itu dibiarkan begitu saja. Hanya Kami, orang-orang terdekatnya, yang tahu tanggal asli dan tanggal kamuflase ulang tahunnya.

Ngomong-ngomong soal 26, tepat 26 tahun yang lalu, anak pertama Bapak lahir. Waktu itu, Bapak masih kuliah di Jakarta, sedangkan Ibuk tetap tinggal di Jepara. Tidak adanya alat komunikasi canggih seperti sekarang ini menyebabkan Bapak tidak langsung mengetahui kalau Ibuk sudah melahirkan. Salah satu kerabat dikirim ke Jakarta untuk mengabarkan hal itu. Bapak langsung pulang, begitu diberi kabar kalau Ibuk sudah melahirkan anak pertamanya.

“Semoga mendapatkan Keutamaan/Kemuliaan”, begitulah do’a Bapak yang disematkan kepada anak pertamanya.

Melalui nama, do’a itu dikumandangkan Bapak di pagi, siang, sore dan malam hari si anak pertama. Melalui nama, do’a itu digaungkan Bapak di tiap perjalanan hidup si anak pertama. Melalui nama, do’a itu dirapalkan Bapak di ujung malam dan di saat terbit fajar yang dilalui si anak pertama.

Saat ini, tanggal 26, di tahun ke-26, do’a itu masih berjalan.

Di akte kelahiran, di sebuah perkenalan, di sebaris daftar absen, di buku catatan, di kartu identitas, di lembar ijazah, di tiket kereta. Do’a itu masih mengalun saja.

Sudahkah anak pertama mewujudkannya? Mampukah mewujudkannya? Bagaimanakah cara mewujudkannya?

Ah....ternyata do’a itu masih dan sedang diterjemahkan pelan-pelan oleh anak pertama.

Do’a yang entah sampai kapan bisa diwujudkan. Do’a yang entah seperti apa perwujudannya. Do’a yang entah bagaimana mewujudkannya.

Di hari ke 26 di bulan ini, sembari masih meraba-raba bagaimana perwujudan do'a itu, si anak pertama turut merapalkan do’a, semoga do’a yang meskipun ditujukan kepada anak pertama, juga kembali kepada pemberi do’a.

“Semoga selalu mendapat Kemuliaan, Bapak....”






Surakarta, 26 Maret 2016



Kamis, 16 Juli 2015

Catatan Akhir Perjalanan Ramadhan 1436 H

Catatan ini saya buat di tengah ramainya puji-pujian mengenai kebesaran Allah. Speaker dari mushalla dan masjid di sekitar rumah sahut-sahutan melafadzkan takbir. Ya, malam ini-lebih tepatnya, dini hari ini adalah hari raya Idul Fitri 1436 H.
***

Tidak terasa Ramadhan telah berlalu. Rasanya baru kemarin, saya dijemput pulang oleh orang tua dari pondok di akhir bulan Sya'ban. Rasanya baru kemarin, saya terawih malam pertama Ramadhan di Musholla dekat rumah. Rasanya baru kemarin, saya sahur hari pertama puasa, dibangunin orang tua dan makan bareng mereka. Rasanya memang baru kemarin.
Tapi ternyata itu semua hanya perasaan saya. Nyatanya sudah satu bulan berjalan, dan saya masih merasa seperti baru kemarin.

Rutinitas. 
Mungkin itu yang menjadikan hari-hari saya berjalan begitu cepat, menjadikan satu bulan layaknya baru kemarin.
Menjadi pengangguran di rumah sendiri bukan berarti menjadikan saya makhluk bebas yang tanpa  rutinitas. Saya tetap punya kegiatan yang dikerjakan berulang-ulang. Dan rutinitas itu bernama membantu-ibu-jualan-di-pasar.
***

Ibu saya seorang pedagang di sebuah pasar tradisional di kecamatan. Dagangannya seputar peralatan dapur dan peralatan rumah tangga, perlengkapan baki lamaran, dan sebagainya.
Selama bulan puasa, saya ikut mbantu-mbantu jualan. Lumayan, selain bisa untuk mengisi waktu luang, juga bisa buat bahan jawaban kalau ditanya "lagi sibuk ngapain?"atau "sekarang kerja apa?".

Terkait dengan dua pertanyaan tersebut, saya sering dibuat keki, bila ada yang tanya tentang hal itu. 
Iya, untuk saat ini saya pengangguran. Saya sudah lulus dari sebuah universitas, yang artinya, saya sudah tidak memiliki predikat sebagai mahasiswa lagi. Saya juga tidak terlihat memiliki afiliasi dengan perusahaan apapun, atau jenis profesi apapun. Di Pondok, sebelum saya pulang ke rumah, kegiatan saya juga tidak bisa didefinisikan dengan kata "bekerja" tetapi "mengabdi". Jadi kata apa yang lebih tepat untuk menggambarkan status saya saat ini, kalau tidak pengangguran.

Sebenarnya, saya juga sudah tercatat sebagai mahasiswa di universitas lain. tapi apa boleh buat, kuliah perdana saya masih bulan Agustus. Sehingga sebelum saya syah mengikuti kuliah perdana di bulan Agustus, saya akan tetap memiliki predikat pengangguran.
Dan saya sangat tidak ada masalah dengan status saya saat ini. Toh sebenarnya saya memang memiliki aktivitas sehari-hari yang tidak bisa dijelaskan dengan satu kata saja. Setidaknya bagi saya, saya punya aktivitas dan rutinitas yang bermanfaat.

Yang menjadi masalah adalah, ekspekstasi orang lain yang bertanya kepada saya, perihal status saya. Ada semacam "tuntutan" jawaban sesuatu yang ideal menurutnya, yang harus ada dalam jawaban saya. Jika saya menjawab pengangguran, ada sorot "menyalahkan" dan "menuntut" untuk segera melepaskan predikat itu. Mungkin dipikirnya, saya makhluk yang sangat tidak berdayaguna.
Jika saya jawab apa yang sesungguhnya menjadi aktivitas keseharian saya, kok kesannya kayak presentasi ya?
Ribet. Ah, sudahlah...terserah mereka sajalah...

Kembali ke rutinitas yang saya jalani selama di rumah, karena ikut membantu Ibuk jualan di pasar, saya jadi tahu sedikit-banyak tentang bagaimana denyut nadi kehidupan orang-orang yang mencari rezeki dengan berjualan. Berangkat sekitar pukul 08.00 WIB dan pulang pukul 15.00 WIB, ada yang lebih pagi dan lebih sore lagi, tergantung kebutuhan mereka masing-masing.

Mereka itu termasuk pejuang nafkah yang tangguh lho. Bayangkan saja, jualan di pasar membutuhkan ketekunan, keuletan dan kesabaran tersendiri. Setiap pagi, barang dagangan dikeluarkan dari dalam kios dan ditata semenarik mungkin. Berbeda dengan pedagang di toko, yang cukup membuka pintu tokonya dan menata sedikit barang dagangannya, pedagang di pasar mengeluarkan hampir semua barang dagangannya, menata dagangan di depan dan disekeliling kios, agar calon pembeli, dapat melihat barang apa saja yang dijual di kios tersebut. Istilah penataan barang pada saat membuka kios adalah "dasar". Maka tidak heran jika dikenal istilah "buka dasar", untuk menggambarkan adanya pembeli yang melarisi pedagang, saat pedagang tersebut masih berbenah mendasarkan dagangannya. Dan jujur, prosesi dasar adalah hal yang sangat melelahkan. Padahal itu baru permulaan.:(

Keseruan mengamati dan (sedikit) menjalani kehidupan pasar, tidak berhenti pada saat dasar saja, justru aktivitas setelah dasar juga tidak kalah seru. Dalam kasus kios milik Ibuk saya, ramai-sepinya pelanggan merupakan pengalaman yang menggemaskan. Ada kalanya calon pembeli ramai-ramai berkunjung dan menawar berbagai barang yang kami dagangkan. Kalau sedang ramai-ramainya, bernafas saja rasanya sulit bukan main. Semua minta disegerakan. Semua minta dihitungkan belanjaannya. Belum lagi jika mereka semua menawar dengan harga di bawah harga kulakan. Sakitnya tuh di sini...

Tapi kondisi ramai adalah anugerah dari Tuhan yang harus di syukuri. Karena ada masa di mana pasar sangat sepi. Jangankan calon pembeli, ada orang lewat depan kios saja bersyukurnya bukan main. Dan kondisi yang paling menyesakkan dada adalah, jika kios Ibuk saya sepi, sedangkan kios sebelah ramai pengunjung. Masyaallah, itu benar-benar cobaan hidup yang sesungguhnya. Konsep "rezeki sudah ada yang mengatur" dan "setiap orang memiliki rezekinya masing-masing" benar-benar diuji pada saat momen itu. Pada saat mengalami masa-masa itu, kita benar-benar diuji kadar keikhlasan kita, ikhlas dengan rezeki kita, ikhlas dengan rezeki orang lain. Kalau mengalami fase ini, siap-siap mengelus dada dan perbanyak istighfar. :)

Nah, setelah pagi hari berjibaku dengan ritual dasar dan menjalani setengah hari bersinggungan dengan berbagai macam pembeli dan calon pembeli, saatnya pedagang pulang ketika matahari mulai tergelincir ke arah barat. Tapi pedagang di pasar tidak bisa langsung serta merta menutup kios dan pulang. Mereka harus melakukan ritual kukut. Kukut itu semacam kebalikan dari dasar. Jika dasar adalah menata barang dagangan ke luar kios, kukut adalah menata dan mengembalikan barang dagangan ke dalam kios. Ritual ini memiliki kadar kelelahan dua kali lipat dari dasar. Bagaimana tidak, tenaga pedagang sudah habis terkuras untuk dasar dan melayani pembeli, tapi masih juga harus angkut-angkut barang lagi dan menatanya ke posisi semula, seperti pada saat sebelum dasar.

Dan tahukah kamu, kegiatan dasar-jualan-kukut dilakukan setiap hari Senin-Selasa-Rabu-Kamis-Jumat-Sabtu-Minggu-Senin (lagi)-dst. Amazing yah....

Layaknya orang bisnis, para pedagang di pasar adalah kumpulan orang-orang yang tekun, ulet dan sabar dalam bekerja. Berbeda dengan orang kantoran, rezeki yang datang ke mereka sangat fluktuatif. Tidak pasti setiap harinya. Maka menjadi tidak heran jika mereka menjadi orang yang kreatif. Mereka butuh banyak strategi dalam menjalankan bisnisnya. Mulai dari penataan kios dan dasaran yang semenarik mungkin, pengadaan barang dagangan yang kira-kira cepat laku terjual, cara berjualan yang menarik pembeli, dan banyak lagi strategi lainnya yang digunakan pedagang pasar agar dagangannya laku dan dapat memutar modal perekonomian mereka. Begitulah.

Sudah ah, sekian dulu saja. Nanti pagi-pagi harus ke masjid untuk ikutan sholat Ied. Maaf lahir batin ya, Jangan lupa bayar zakat. Salam.









Jepara, 16 Juli 2015

Rabu, 01 Juli 2015

Catatan Separuh Perjalanan Ramadhan 1436 H

Kali ini saya mengawali bulan Ramadhan dan insyaallah juga akan menghabiskan 30 hari ke depan di rumah--Jepara. Hal yang sudah lama tidak saya jalani hampir sepuluh tahun. Enam tahun pertama masa perantauan, saya ber-Ramadhan di Jogja, tahun ketujuh terdampar di Bekasi, tahun kedelapan kesasar di Karimunjawa, dan dua tahun terakhir kemarin balik lagi ke Jogja.
Ada banyak pertimbangan ketika akhirnya saya memilih untuk menghabiskan Ramadhan kali ini di rumah. Rasa kangen dan kenangan masa kecil tentang indahnya Ramadhan di rumah menjadi salah satu alasannya. Dan saya ingin kembali merasakannya. 
Dulu, seingat saya, Ramadhan identik dengan ngaji posonan, jalan-jalan pagi, ngabuburit di sawah atau kali dan berisiknya tong-tek sahur. 
Setiap Ramadhan, saya ngaji posonan di madrasah dekat rumah. Mungkin dulu alasannya simple, karena teman-teman madrasah dan teman kampung juga ikutan, kan seru kalau rame-rame. Ada banyak pilihan kitab yang dikaji. Biasanya seputar fiqh, hadis, akhlaq dan tauhid. Pilihan jadwal ngajinya pun beragam, mulai dari bakdha Subuh, Bakdha Ashar atau menjelang berbuka, hingga Bakdha Tarawih. Pesertanya? Dari berbagai kalangan dan berbagai umur. Kitab yang paling laris dipilih selama posonan, tak lain dan tak bukan adalah kitab Qurrotul Uyun, yang sampai saat ini, saya belum pernah mengajinya. :(
Selain ngaji, jalan-jalan pagi juga menjadi kegiatan rutin selama Ramadhan. Jadwal masuk sekolah selama bulan puasa biasanya dimundurin agak siang. Daripada bingung di rumah, biasanya saya dan saudara atau tetangga jalan-jalan pagi sampai pasar atau belakang terminal. Tapi kalau jalan-jalan pagi kayaknya agak gak rutin. Karena, yah...biasanya sehabis subuh juga kembali tidur...
Nah, baru sore harinya, saya rutin ngabuburit menunggu buka puasa. Rumah saya tidak terlalu jauh dari sawah, mungkin 1 Km-an lah. Kalau rame-rame bareng saudara, biasanya naik sepeda. Tapi kalau sendirian, saya naik sepeda motor. Daripada di rumah sebel sendiri menunggu muadzin yang tidak kunjung adzan, saya memilih melihat hijaunya sawah atau derasnya kali Bongpes.
Dan yang paling seru di bulan Ramadhan adalah mendengar tong-tek sebelum sahur. Banyak sekali anak-anak muda dari berbagai komunitas RT atau Musholla yang punya tenaga lebih dan waktu yang selo untuk bergerilya malam-malam setiap hari selama bulan Ramadhan. Terkadang saya salut sama mereka, pahalanya banyak--mbangunin orang sahur plus juga memberi hiburan gratis di tengah malam buta. Apalagi kualitas tong-tek selalu meningkat dari tahun ke tahun. Dulu awalnya cuma menggunakan kayu/bambu sebagai instrumennya. Lalu meningkat ada yang menggunakan gitar dan harmonika. Terakhir yang saya tahu, ada yang menggunakan organ dan drum. Luar biasaaa. Belum lagi kualitas musikalitas yang mereka bawakan. Tidak cuma tong-tek-tong-tek, mereka sudah mahir membawakan berbagai jenis lagu, mulai dari dangdut sampai pop. Sayangnya belum ada contact person yang bisa dihubungi, kalau ada kan saya bisa request lagu...Tapi terkadang mereka juga bikin sebel. Pertama, karena mereka memulai penampilannya jam 1 malam. Siapa coba yang mau sahur jam segitu? Kedua, kadang nge-time/ ngedon di depan rumah lamaaa banget, sampai bikin orang susah tidur.

Apakah Ramadhan kali ini saya masih merasakan indahnya Ramadhan seperti beberapa tahun silam?

Ramadhan tetaplah dan akan selalu indah. Tapi tentu adalah hal yang sangat naif jika saya mengharapkan suasana Ramadhan sekarang sama dengan suasana Ramadhan sepuluh tahun yang lalu. Desa saya sudah banyak berubah. Suasana Madrasah juga sudah banyak berubah. Dan yang lebih penting, saya juga sudah berubah. Saya bukan lagi remaja SMP seperti sepuluh tahun yang lalu. 
Oh waktu, ternyata kau cepat sekali berlalu......



Rabu, 08 April 2015

Awal Tahun 2015




Merayakan atau tidak merayakan tahun baru adalah pilihan. Bagi saya, hari libur di tahun baru sangat sayang jika dilewatkan dengan bermalas-malasan di dalam kamar. Untung saja ada saudara saya yang main ke Jogja--yang juga memanfaatkan hari liburnya. Jadilah libur tahun baru ini saya memilih untuk menghabiskan awal tahun baru bersama-sama menjelajahi museum Benteng Vredeburg dan Taman Sari. Hitung-hitung menjelajahi surga kilasan sejarah yang begitu dekat dari jangkauan tapi jarang masuk dalam daftar agenda kunjungan.

Facebook, 2 Januari 2015

Refleksi dari Drama Korea




Habis ikutan kelas menulis yang membahas tentang dunia jurnalisme, sambil diskusi tentang banyak hal yang mencerahkan bersama jurnalis handal, membuat saya mengenal lebih dekat dengan dunia jurnalisme.
Eh..lha kok ndelalah dapet copian drama Korea Pinnochio yang settingnya menceritakan tentang profesi seorang reporter. Pas banget... 
Terlepas dari cerita dramanya yang ya-gitu-lah. Menonton alur cerita dari drama ini memberi gambaran visual kepada kita mengenai dunia jurnalisme yang sesungguhnya. Bagaimana seorang reporter mencari kejadian yang bisa dijadikan berita, menyusun daftar pertanyaan, bersaing dengan reporter lain untuk mendapatkan berita, menentukan layak-tidaknya suatu berita, mencari fokus pemberitaan, ramainya suasana redaksi, pangalihan isu, pengambilan gambar liputan dan masih banyaaaaaak lagi gambaran visual yang secara umum dialami oleh reporter.
Pokoknya nonton drama ini membuat saya seperti menjadi seorang reporter yang melihat atau memantau teman saya yang sedang terjun langsung ke lapangan. Seru....

Facebook, 25 Januari 2015
 
 
(gambar diunduh dari: http://www.pinocchiodrama.com/pinocchio-script-reading-has-already-started/)


Kamis, 26 Maret 2015

Ibuk

Seperti hari ini, pada tanggal dan bulan yang sama di tahun 1990, aku lahir di dunia ini. Pada tanggal, bulan dan tahun itu juga, Ibuk genap berusia 22 tahun, 25 hari. Kala itu, Ibuk melahirkan bayi perempuan yang katanya lucu dan menggemaskan.
***
Ibuk menikah dengan Bapak di usia 18 tahun, usia yang lumrah untuk menikah saat itu. Berawal dari hubungan sebagai guru-murid, Bapak dan Ibuk kemudian menjadi pasangan suami-istri. Tapi tidak seperti pasangan pengantin baru kebanyakan. Setelah menikah, Bapak dan Ibuk masih melanjutkan study alias mondok di pesantren, sehingga untuk sementara waktu mereka hidup terpisah.

Kota Kediri, adalah salah satu kota di mana Ibuk menghabiskan waktu di pondok untuk nderes dan nglalar al-Quran. Sempat kudengar, di kota inilah aku ikut mondok meskipun masih di dalam kandungan Ibuk.

Ibuk hafidhzah sedari kecil; hasil didikan keras tapi mentas dari Mbah Kakung. Aku kurang tahu sejak kapan Ibuk khatam 30 Juz. Entah sebelum menikah, entah setelah menikah. Tapi yang jelas sampai sekarang Ibuk tetap menjaga hafalannya. 

Perjalanan hidupnya sebelum menikah dihabiskan untuk belajar tentang banyak hal. Bapak pernah bercerita, kalau Ibuk dulu bintang kelas; predikat murid terpandai jaman dahulu. Ilmu Shorof dan Nahwu dasar dikuasainya. Sampai sekarang pun Ibuk masih hafal. 

Untuk urusan memasak, Ibuk juaranya. Menjadi anak kedua dari empat bersaudara (yang berhasil hidup), Ibuk dituntut dengan sendirinya untuk bisa memasak. Pekerjaan dapur itu telah Ibuk kuasai dari kecil. Mulai dari masakan rumah sehari-hari, masakan berat ala perayaan, kue kering-basah, aneka kudapan, dan berbagai jenis masakan lainnya. kalau pun itu masakan asing, baru, atau aneh, asal ada resepnya, sepertinya gampang sekali kalau Ibuk yang menyajikan. dan terbukti rasanya Enak se-Dunia. Tapi jangan pernah request ke Ibuk untuk memasak olahan Lele dan Bebek. Ibuk bakal menolak mentah-mentah.

Ibuk sedikit banyak juga bisa menjahit; baik menggunakan tangan maupun dengan mesin jahit. Beberapa kurung bantal dan guling di rumah adalah hasil karya Ibuk. Celana bolong, kancing lepas atau kolor yang sudah kendor juga menjadi obyek reparasinya Ibuk.

Ibuk sempat tinggal di Ibu Kota mengikuti Bapak yang kala itu sedang kuliah di IAIN. Kami bertiga tinggal di kontrakan sederhana di daerah dekat kampus. Tapi, tidak berselang lama, Ibuk dan aku yang masih bayi, kembali ke kampung halaman karena mengalami insiden. Kontrakan kami mengalami kebakaran. Menurut cerita, ada tetangga kontrakan kami yang gordennya terbakar lilin kemudian terjadi kebakaran dan menyebar ke kontrakan sekitarnya. Ibuk saat itu sedang istirahat setelah mencuci pakaian. Melihat api yang semakin membesar, Ibuk buru-buru menggendongku dan berlari tanpa alas kaki keluar kontrakan. Sementara itu, Bapak sedang tidak di kontrakan karena mengajar ngaji di Masjid yang agak jauh dari kontrakan. Mungkin karena trauma, atau karena tidak cocok tinggal di sana, kami berdua akhirnya kembali ke kampung. Nasib membawa Ibuk dan aku kembali ke Pecangaan Wetan, sebuah desa di Jepara.

Tahun-tahun berikutnya, terlebih setelah Bapak wisuda S1 dan kembali lagi ke kampung, Ibuk berperan sebagai Ibu rumah tangga di rumah kecil kami. Segala urusan mulai dari dapur, membereskan rumah, mencuci, menyetrika, belanja semua dihandle Ibuk. Belum lagi mengurus aku, dan dua adikku yang masih ingusan. Benar-benar multitasking.
***
Ibuk, Ibukku yang telah menjadi salah satu sebab aku hadir di dunia ini, telah banyak melalui hari-hari. Sampai detik ini, cerita-cerita tentang hidupnya masih terus berjalan. 

Ibuk, di usia 22 tahun lebih 25 hari; 25 tahun yang lalu, telah melalui proses pendewasaan diri secara alami. Tapi bagiku, sempurna. 

Ibuk telah menjalani fase kanak-kanak dengan penuh semangat belajar dan tanggungjawab. 

Fase remaja juga telah dilalui Ibuk dengan berani berkomitmen membangun rumah tangga bersama Bapak.

memasuki fase dewasa, Ibuk juga telah membuktikan kehebatannya menjadi ibu rumah tangga yang telah dikaruniai tiga anak dengan berbagai cerita dan persoalannya.
***
Ibuk, Ibukku yang selalu menyertai tumbuh-kembangku selama 25 tahun ini dan semoga di tahun-tahun berikutnya.

Ibuk, Ibukku yang telah dan selalu berperan sebagai Ibu, baik 25 tahun yang lalu, sekarang, maupun selama-lamanya.

Ibuk, Ibukku yang selalu mendo'akan anaknya, tanpa perlu diminta, sepanjang waktu.
***
Ibuk, Ibukku sayang....
Hari ini anakmu genap memasuki usia seperempat abad.
Usia dimana telah kau lalui dengan pencapaian gemilang.
Usia dimana kau telah menjadi wanita sempurna.
Usia dimana kau telah menjadi Ibukku.
Usia dimana aku telah lahir dari rahimmu.

Ibuk, Ibukku sayang....
Hari ini anakmu berusia perak.
Hari ini anakmu masih menjadi anak.
Yang masih meraba-raba masa depan.
Yang masih sibuk merangkai impian.
Yang masih memeluk harapan.

Ibuk, Ibukku sayang....
Selamat berulang tanggal, bulan, tahun;
dimana aku kau lahirkan.


Perpustakaan UGM, 26 Maret 2015












Jumat, 26 Desember 2014

Jendela Kaca dengan Gorden Hijau Tua


Jendela kaca dengan gorden hijau tua. Darimu aku bisa melihat dunia di luar sana. Tapi aku hanya menjadi penonton di dalam sini. Menonton siang dan malam yang berkejaran. Menonton jingga yang memudar. Menonton kelam berganti fajar. Kadang kudengar suara jangkrik yang mengerik. Juga suara kucing yang mengeong. Tapi tak kudapati wujudnya. Mungkin di sebelah kanan jendela kaca dengan dengan gorden hijau tua-ku ini. Atau di bawah. Atau di atas. Tapi sepertinya bunyinya bukan berasal dari sebelah kiri. Entahlah. Penglihatanku terbatas oleh bingkai persegi panjang ini. Kucoba merapat sedekat mungkin dengan jendela kaca-ku. Aih...pemandangan di sebelah tetap tak terjangkau penglihatanku. Kupejamkan mataku dan semakin kurapatkan diriku ke jendela kaca-ku. Sia-sia. Hanya bertambah 5 senti. 
Hey...apa itu yang ada di sebelah kanan bawah jendela kaca-ku? Sepucuk ujung ekor berbulu putih. Kuyakini itu kucing, bukan tikus. Sebab tikus pastilah hitam atau kecoklat-coklatan. Ditambah tadi juga sempat kudengar eraman khas kucing. Pasti! Tak salah lagi. Itu kucing. Meskipun aku tidak bisa memprediksikan warna bulu secara keseluruhan. Siapa tahu warna dominannya hitam dan hanya menyisakan percik putih di ujung ekornya. Atau kuning emas bercampur putih. Siapa tahu. Ah...kemungkinan-kemungkinan itu malah membuatku semakin penasaran mencari kebenaran. 
Bagaimana ini? Jarak pandangku tak sampai. Tapi aku penasaran. Apa aku harus meminjam jendela kaca yang lain? Tidak ah...buat apa susah payah melihat dari jendela kaca lain. Toh nantinya aku akan tetap memakai jendela kaca dengan gorden hijau tua ini.
"Warna dominan bulu kucingnya apa?", tanya hatiku, yang kembali mengusik rasa penasaranku. "Apa salahnya sih melihat dari jendela kaca yang lain?", kembali hatiku bertanya agar aku semakin penasaran.
Iya, apa salahnya?

************************************************

Agak asing aku melihat ke luar dari jendela kaca dengan goeden yang entahlah berwarna apa. Mataku masih beradaptasi. Cahaya yang masuk ke jendela kaca dengan gorden yang entahlah berwarna apa ini agak lebih terang dibanding cahaya yang masuk ke jendela kaca dengan gorden hijau tua-ku. Sedetik, lima detik, sepuluh detik, dua puluh detik. Berangsur-angsur penglihatanku normal. Pemandangan yang sama tapi sedikit berbeda. Entahlah aku tak bisa menjelaskannya. Yang aku tahu, dari jendela kaca dengan gorden yang entahlah berwarna apa, aku bisa melihat dengan jelas kucing yang ada di bawah sebelah kiri. Kucing itu berwarna dominan putih, dengan bercak hitam di telinganya.

Krapyak, 26 Desember 2014 

Kamis, 03 Januari 2013

Akhir Tahun yang Indah

30 Desember 2011
Langit mendung menggelayuti Jakarta Timur sore ini. Sisa-sisa uap air yang gagal menyusul rekan-rekannya meluruh ke bumi sesiang ini, memberi sensasi dingin yang semakin menusuk kulit. Jalanan masih terlihat basah oleh air, menggenang malah. Membuat orang-orang semakin buru-buru ingin sampai di rumah, berlindung di zona nyaman untuk beristirahat, melepas penat atau apalah.
Tapi gerimis kecil-kecil yang sekarang menghiasi langit Jakarta tak membuat langkah-langkah kecil kami ­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­-anak-anak yang di rantau orang- menjadi surut. Senyum masih menghiasi raut muka kami. Semangat masih menghiasi degup jantung kami. Dan bahagia masih menghiasi perjalanan kami. Hanya ada satu pikiran dalam benak kami, semoga nanti malam kami bisa sampai dengan selamat di Ciganjur, bisa nderek haul guru bangsa kami.
Sembari menuju busway yang akan membawa kami ke daerah Ragunan, kami mengisi dinginnya jalan dengan canda dan guyonan khas kami. Berkelakar tentang hidup, kehidupan, bahkan hal-hal sepele. Mengisi perjalanan ini dengan tawa penuh cerita biar tak didera rasa bosan. Sesekali terdengar gelak tawa dari kami, suara bising jalanan, klakson bajaj yang susul-menyusul dengan klakson oplet, sepeda motor, bis umum dan kendaraan pribadi. Suara-suara ini yang mengiringi langkah kami.
Di kejauhan, di sebuah toko bahan bangunan, sayup-sayup terdengar alunan musik yang tak asing ditelinga kami. Shalawat yang didendangkan Maher zein timbul tenggelam beradu dengan musik jalanan. Semakin kami melangkah, lantunan puji-pujian untuk nabi semakin jelas di telinga kami. Duh,,,betapa dakwah yang dilakukan oleh maher zein sangatlah menakjubkan. Cara dakwah yang mengajak masyarakat untuk mengenal dan mencintai shalawat dengan musik yang familiar, menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat, yang pada akhirnya benar-benar sukses mengangkat derajat shalawat di mata masyarakat umum. Kini shalawat menjadi membumi, menjadi hal yang tidak terkesan kuno dan usang lagi. Shalawat menjadi obat gundah gulana. Shalawat menjadi kebutuhan rohani bagi yang mendengarnya. Berbagai kalangan semakin akrab dengan shalawat. Berbagai kalangan semakin mencintai salawat. Berbagai kalangan semakin menyatu dengan shalawat, barakallah….
Sesore ini, busway dipenuhi oleh lautan manusia dengan berbagai tujuan. Seperti kami, mereka juga terlihat ingin segera sampai tujuan, enggan bergelayutan lama-lama di pegangan busway. Satu dua orang turun di shelter bus berikutnya. Beberapa orang berebut bangku bekas penumpang yang turun barusan. Seorang pria mempersilahkan ibu yang sedang menggendong anaknya untuk duduk duluan. Seorang pria lagi terlihat enggan menyerahkan bangku empuknya dan harus terpaksa berdiri. Kondektur berdiri di samping pintu geser, mengingatkan lagi peraturan baru busway tentang area khusus wanita yang masih banyak dilanggar. Kami masih asyik dengan kelakar kami. Sampai-sampai lupa dengan volume suara yang semakin meninggi. “Ragunan…Ragunan….” Teriak kondektur mengingatkan penumpang. Kami telah sampai tujuan. Buru-buru kami melangkah keluar dari busway, menuju ke shelter Ragunan dan melanjutkan perjalanan ke Ciganjur.
Hari sudah gelap ketika kami sampai di Ciganjur. Tapi suasana ramai tampak jelas terlihat dari jalan gang. Pedagang dadakan berjejer memenuhi kanan-kiri jalan, menambah marak suasana haul ini. Langkah kami mantap menuju majelis. Para penerima tamu, putra-putri telah berjejer rapi menyambut hangat tamu-tamu yang datang berberondong. Rombongan kami pun terpisah menjadi dua. Kami memilih duduk di depan masjid Al-Munawwaroh, melihat podium dari layar LCD proyektor yang disediakan oleh panitia. Tak menyia-nyiakan waktu yang ada, kami ikut larut dalam sambutan-sambutan hangat dari keluarga sohibul bait, teman-teman Gus Dur. Sahabat-sahabat yang datang, memberikan sepatah-dua patah kalimat yang sarat pesan. Bercerita tentang pengalaman hidup bersama Gus Dur. Bercerita sedikit banyak tentang potret Gus Dur. Bercerita tentang pandangan hidup Gus Dur yang banyak memberi inspirasi. Tapi kantuk semakin menyerang pertahanan kami. Satu-dua dari kami berguguran. Sepertinya lelah karena perjalanan lebih berjaya daripada dorongan hati untuk tetap terjaga mengikuti majelis. Hingga sampai pada puncak acara, wayang kulit yang dibawakan oleh dalang dari wayang kampung sebelah begitu menyita perhatian majelis. Mendengar banyak tawa yang membahana membuat kami sontak terbangun. Penasaran dengan sajian yang menghibur ini, kesadaran kami perlahan muncul. Memang kocak dan menghibur sajian wayang kampung sebelah. Sentilan-sentilan terhadap penguasa negeri ini begitu mengena. Sindiran-sindiran terhadap degradasi masyarakat juga begitu pas, tanpa unsur menggurui. Sangat realistis menggambarkan kehidupan dewasa ini, wangun kata orang jogja bilang…..
Akan tetapi tak sampai selesai, kami menyudahi menonton pertunjukan wayang kulit ini. Rasa lelah yang sedari tadi menyerang kami sekarang sudah tidak bisa ditolerir lagi. Dengan langkah gontai kami menuju gedung yayasan yang disediakan untuk tempat beristirahat kami. Sudah saatnya melepas penat. Esok pagi kami harus kembali ke asrama Kayu Putih -rumah animasi kami- untuk melanjutkan kehidupan sehari-hari kami. Selamat Istirahat kawan......=)
-naa-