creativity

creativity
karya salah satu muridku :)

Label

Tampilkan postingan dengan label pesantren. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pesantren. Tampilkan semua postingan

Jumat, 24 April 2015

Nariyyah, Bu Nyai, dan Pengalaman Organisasi

Ritual malam jum'at kami kemarin agak berbeda dari malam jum'at sebelum-sebelumnya. Agenda pembacaan maulid dziba'i atau terkadang diganti maulid barzanji yang rutin dibaca tiap malam Jum'at diganti pembacaan shalawat nariyyah yang dipimpin langsung oleh Bu Nyai.

Mushalla yang biasanya ga penuh-penuh amat, kadang malah sepi, malam itu penuh sesak sampai saling ndesel. Tumplek-bleg santri R1 dan R2. Berhubung jamaahnya buanyaaak, setiap orang dari kami kejatahan mbaca nariyyah 44 kali, yang biasanya 100 kali.

Begitu majelis dibuka Bu Nyai dengan Al-Fatihah, semua dari kami sibuk dengan bacaan masing-masing. Ada yang sudah hafal di luar kepala dan merapalkan bacaan layaknya merapalkan mantra. Ada yang masih pegang kertas meskipun bacaannya juga super cepat. Ada yang masih tertatih mbaca nariyyah sambil melihat kertas. Tapi semua khusyuk dengan bacaan dan hitungannya sendiri. Tidak sampai setengah jam kami semua telah selesai membaca shalawat nariyyah yang ditutup dengan do'a dari Bu Nyai.

Begitu selesai, salah satu pengurus mengumumkan kalau malam itu ada rapat agenda tahunan pondok dan pembacaan LPJ pengurus Komplek R2. Dengan sendirinya santri Komplek R1 kembali ke kamar masing-masing, meninggalkan saudaranya, santri Komplek R2 yang masih mempunyai agenda lanjutan.

Saya tidak akan cerita tentang rapat dan jalannya diskusi plus sanggahan, karena cerita kali ini adalah mengenai Bu Nyai.

*****
Singkat cerita, Bu Nyai sebagai pengasuh Komplek R2, memberikan sambutannya dalam pembukaan rapat agenda tahunan Komplek R2. Sebagai starting point, Bu Nyai menyindir kami dengan bertanya kenapa kok malam ini mushalla penuh, padahal kalau jama'ah hanya ada satu, dua, tiga. Memang jama'ah di mana? Madinah? (yaaah...jadi malu...)

Disiplin kami di pondok dipertanyakan. Padahal pondok mempunyai tradisi baik, yaitu bangun pagi sebelum subuh dan shalat jama'ah di setiap waktu shalat. Tapi kok kami...(maafkan anakmu ini bu...bandel dan malasnya keterlaluan..)

Memang unik dan menarik kalau melihat gaya bicara Bu Nyai, tidak marah-marah, terkadang lucu, tapi mengena.

bu nyai
Bu Nyai dalam sambutan rapat tahunan tadi malam. Abaikan kualitas foto yang kurang :)
Malam itu, karena didaulat untuk mengisi sambutan rapat tahunan dan LPJ, Bu Nyai banyak bercerita mengenai organisasi.

Beliau bercerita, pertama kali aktif berkecimpung di organisasi ketika berada di level sekolah menengah pertama. Kala itu beliau bergabung di IPPNU Komisariat. Berlanjut di level sekolah menengah atas, beliau aktif di OSIS. Organisasi seperti Muslimat NU, PKB, dan P3M adalah sebagian dari banyaknya organisasi yang pernah digeluti beliau. Sampai kemudian, banyaknya pengalaman organisasi mengantarkan beliau menjadi anggota DPRD Bantul selama dua periode.

Dalam konteks pengalaman berorganisasi, beliau berpesan kepada kami semua, bahwa organisasi merupakan tempat belajar. Belajar berinteraksi, belajar menyatakan pendapat, dan belajar bermasyarakat. Kalau kita terbiasa berorganisasi, kita akan menjadi orang yang lincah, cekatan dan dapat diandalkan dimana pun berada. Beliau menyebutnya siap pakai. Jadilah orang yang siap pakai. Dimana pun berada, bisa memberi manfaat. Tidak gagap dengan lingkungan dan luwes terhadap masyarakat. jangan sampai menjadi orang yang ketika terjun ke tengah masyarakat masih bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.

Sambutan dari Bu Nyai ditutup dengan cerita-cerita lucu nan romantis dari beliau sebagai seorang istri dan ibu. Segar dan inspiratif...


Perpustakaan UGM, 24 April 2015

Minggu, 19 April 2015

Gorengan Gratis

Minggu pagi (22/03) di Al-Munawwir Komplek R kali ini sedikit berbeda tapi Istimewa.

*Sholat Subuh masih berjamaah seperti biasa
*Ngaji Quran juga masih berjalan seperti biasa
*Takziran bagi yang "beruntung" mendapatkannya juga masih ada
*Rombongan santri kelaparan yang membawa box ketering ke dapur juga masih setia mengantri demi mendapatkan sarapan sehat ala pondok
*Penjual gorengan, Fitri Astuti yang istiqomah jualan setiap hari (kecuali Senin dan Kamis), juga masih dirubung teman-temannya.

Lantas apa yang tidak biasa?
Ternyata, yang tidak biasa, kami tak perlu membayar gorengan dll yang kami ambil, alias Gratiiis...semau-mau kami.

Usut punya usut...semua ini gara-gara yang jual gorengan hari ini berulang tahun.
Alhamdulillah..makasih ya Fit...berkat kamu, kami tak perlu nambah lagi daftar utang gorengan yang belum terbayar.
Berkat kamu, kami bisa sepuasnya ngambil pisang goreng, mendoan, tahu isi, mie goreng, oseng tempe tanpa perlu mikir berapa jumlah yang harus kami bayar.

Doaku, semoga kamu semakin menjadi pengusaha yang sholehah, jujur, sukses, rezekinya mengalir terus, tapi juga menjadi dermawan yang shadaqahnya tak putus-putus. Amiiiin.


Facebook, 22 Maret 2015

Berkah Mondok (Part 1)

 https://igcdn-photos-f-a.akamaihd.net/hphotos-ak-xaf1/t51.2885-15/11094501_795729620475973_1988643651_n.jpg



Ceritanya kemarin sore (14/04) dapet kiriman kering tempe teri super sedap dari rumah. Karena tadi siang masih ada, saya cuma beli nasi+sayur daun pepaya+sayur daun ketela buat makan siang. Sedang enak-enaknya makan nasi+sayur2+kering tempe teri, teman sekamar saya yang masih kelas satu SMA dan baru pulang dari kampung halamannya, datang bawa oleh-oleh sekerdus yang isinya lauk-pauk dan jajan. Begitu datang, kardusnya langsung dibuka dan isinya ditawarin ke saya, "mbak..ini ada cumi tepung goreng, sama ada kerang juga, yang itu cumi oseng..oiya, kalau pengen ada juga pepes telur ikan tuh mbak..", "waaaaah...alhamdulillah....nambah lauk makan siang nih..."
Alhasil tanpa ba-bi-bu dan tanpa malu-malu saya ambil beberapa cumi tepung yang dalamnya ada telurnya tebel banget...kerang tepung goreng yang cuma limited itu juga tidak lupa saya comot...buat nambah sedapnya makan siang saya, cumi oseng tak ketinggalan saya ambil. Maklum, rezeki...pantang ditolak, hehehe...
Jadilah ada reunian antara teri, cumi dan kerang dalam makan siang saya. Nikmat sekali....
Beginilah kalau tinggal di pondok...banyak berkah yang di dapat...alhamdulillah...
Tapi semoga berkahnya tidak berhenti cuma di sini, tapi membuka berkah yang lain berupa semangat menjalankan kegiatan-kegiatan pondok. Semoga...


Facebook, 15 April 2015

Selasa, 07 April 2015

Dunia Santri Vis A Vis Dunia Seni


Tadi sore iseng-iseng lihat pameran di area pondok. Salah satu tema yang digarap adalah "tradisi" ghosob. Menarik ya...sekat-sekat imajiner antara dunia santri dan dunia seni melebur.

Dari dunia santri, sebuah potret kehidupan dunia santri bisa diramu dan diracik sedemikian rupa hingga menjadi sebuah karya seni.

Pun dari dunia seni. Kegelisahan, keresahan atau pemikiran tentang kehidupan, tradisi dan interaksi manusia yang terjadi di dunia santri bisa tersampaikan melalui kata, gambar, lukisan, ember, atau pun sepatu.

Dunia santri membutuhkan dunia seni untuk melihat, mendengar, membaca, menulis, dan bicara melalui berbagai media dan salurannya.

Sebaliknya, dunia seni juga membutuhkan dunia santri untuk memberi ruh bagi sebuah karya seni agar tak hanya indah, tapi juga bermakna.

Facebook, 31 Januari 2015