creativity

creativity
karya salah satu muridku :)

Jumat, 26 Desember 2014

Jendela Kaca dengan Gorden Hijau Tua


Jendela kaca dengan gorden hijau tua. Darimu aku bisa melihat dunia di luar sana. Tapi aku hanya menjadi penonton di dalam sini. Menonton siang dan malam yang berkejaran. Menonton jingga yang memudar. Menonton kelam berganti fajar. Kadang kudengar suara jangkrik yang mengerik. Juga suara kucing yang mengeong. Tapi tak kudapati wujudnya. Mungkin di sebelah kanan jendela kaca dengan dengan gorden hijau tua-ku ini. Atau di bawah. Atau di atas. Tapi sepertinya bunyinya bukan berasal dari sebelah kiri. Entahlah. Penglihatanku terbatas oleh bingkai persegi panjang ini. Kucoba merapat sedekat mungkin dengan jendela kaca-ku. Aih...pemandangan di sebelah tetap tak terjangkau penglihatanku. Kupejamkan mataku dan semakin kurapatkan diriku ke jendela kaca-ku. Sia-sia. Hanya bertambah 5 senti. 
Hey...apa itu yang ada di sebelah kanan bawah jendela kaca-ku? Sepucuk ujung ekor berbulu putih. Kuyakini itu kucing, bukan tikus. Sebab tikus pastilah hitam atau kecoklat-coklatan. Ditambah tadi juga sempat kudengar eraman khas kucing. Pasti! Tak salah lagi. Itu kucing. Meskipun aku tidak bisa memprediksikan warna bulu secara keseluruhan. Siapa tahu warna dominannya hitam dan hanya menyisakan percik putih di ujung ekornya. Atau kuning emas bercampur putih. Siapa tahu. Ah...kemungkinan-kemungkinan itu malah membuatku semakin penasaran mencari kebenaran. 
Bagaimana ini? Jarak pandangku tak sampai. Tapi aku penasaran. Apa aku harus meminjam jendela kaca yang lain? Tidak ah...buat apa susah payah melihat dari jendela kaca lain. Toh nantinya aku akan tetap memakai jendela kaca dengan gorden hijau tua ini.
"Warna dominan bulu kucingnya apa?", tanya hatiku, yang kembali mengusik rasa penasaranku. "Apa salahnya sih melihat dari jendela kaca yang lain?", kembali hatiku bertanya agar aku semakin penasaran.
Iya, apa salahnya?

************************************************

Agak asing aku melihat ke luar dari jendela kaca dengan goeden yang entahlah berwarna apa. Mataku masih beradaptasi. Cahaya yang masuk ke jendela kaca dengan gorden yang entahlah berwarna apa ini agak lebih terang dibanding cahaya yang masuk ke jendela kaca dengan gorden hijau tua-ku. Sedetik, lima detik, sepuluh detik, dua puluh detik. Berangsur-angsur penglihatanku normal. Pemandangan yang sama tapi sedikit berbeda. Entahlah aku tak bisa menjelaskannya. Yang aku tahu, dari jendela kaca dengan gorden yang entahlah berwarna apa, aku bisa melihat dengan jelas kucing yang ada di bawah sebelah kiri. Kucing itu berwarna dominan putih, dengan bercak hitam di telinganya.

Krapyak, 26 Desember 2014