Catatan ini saya buat di tengah ramainya puji-pujian mengenai kebesaran Allah. Speaker dari mushalla dan masjid di sekitar rumah sahut-sahutan melafadzkan takbir. Ya, malam ini-lebih tepatnya, dini hari ini adalah hari raya Idul Fitri 1436 H.
***
***
Tidak terasa Ramadhan telah berlalu. Rasanya baru kemarin, saya dijemput pulang oleh orang tua dari pondok di akhir bulan Sya'ban. Rasanya baru kemarin, saya terawih malam pertama Ramadhan di Musholla dekat rumah. Rasanya baru kemarin, saya sahur hari pertama puasa, dibangunin orang tua dan makan bareng mereka. Rasanya memang baru kemarin.
Tapi ternyata itu semua hanya perasaan saya. Nyatanya sudah satu bulan berjalan, dan saya masih merasa seperti baru kemarin.
Rutinitas.
Mungkin itu yang menjadikan hari-hari saya berjalan begitu cepat, menjadikan satu bulan layaknya baru kemarin.
Menjadi pengangguran di rumah sendiri bukan berarti menjadikan saya makhluk bebas yang tanpa rutinitas. Saya tetap punya kegiatan yang dikerjakan berulang-ulang. Dan rutinitas itu bernama membantu-ibu-jualan-di-pasar.
***
Menjadi pengangguran di rumah sendiri bukan berarti menjadikan saya makhluk bebas yang tanpa rutinitas. Saya tetap punya kegiatan yang dikerjakan berulang-ulang. Dan rutinitas itu bernama membantu-ibu-jualan-di-pasar.
***
Ibu saya seorang pedagang di sebuah pasar tradisional di kecamatan. Dagangannya seputar peralatan dapur dan peralatan rumah tangga, perlengkapan baki lamaran, dan sebagainya.
Selama bulan puasa, saya ikut mbantu-mbantu jualan. Lumayan, selain bisa untuk mengisi waktu luang, juga bisa buat bahan jawaban kalau ditanya "lagi sibuk ngapain?"atau "sekarang kerja apa?".
Terkait dengan dua pertanyaan tersebut, saya sering dibuat keki, bila ada yang tanya tentang hal itu.
Iya, untuk saat ini saya pengangguran. Saya sudah lulus dari sebuah universitas, yang artinya, saya sudah tidak memiliki predikat sebagai mahasiswa lagi. Saya juga tidak terlihat memiliki afiliasi dengan perusahaan apapun, atau jenis profesi apapun. Di Pondok, sebelum saya pulang ke rumah, kegiatan saya juga tidak bisa didefinisikan dengan kata "bekerja" tetapi "mengabdi". Jadi kata apa yang lebih tepat untuk menggambarkan status saya saat ini, kalau tidak pengangguran.
Sebenarnya, saya juga sudah tercatat sebagai mahasiswa di universitas lain. tapi apa boleh buat, kuliah perdana saya masih bulan Agustus. Sehingga sebelum saya syah mengikuti kuliah perdana di bulan Agustus, saya akan tetap memiliki predikat pengangguran.
Dan saya sangat tidak ada masalah dengan status saya saat ini. Toh sebenarnya saya memang memiliki aktivitas sehari-hari yang tidak bisa dijelaskan dengan satu kata saja. Setidaknya bagi saya, saya punya aktivitas dan rutinitas yang bermanfaat.
Yang menjadi masalah adalah, ekspekstasi orang lain yang bertanya kepada saya, perihal status saya. Ada semacam "tuntutan" jawaban sesuatu yang ideal menurutnya, yang harus ada dalam jawaban saya. Jika saya menjawab pengangguran, ada sorot "menyalahkan" dan "menuntut" untuk segera melepaskan predikat itu. Mungkin dipikirnya, saya makhluk yang sangat tidak berdayaguna.
Jika saya jawab apa yang sesungguhnya menjadi aktivitas keseharian saya, kok kesannya kayak presentasi ya?
Ribet. Ah, sudahlah...terserah mereka sajalah...
Ribet. Ah, sudahlah...terserah mereka sajalah...
Kembali ke rutinitas yang saya jalani selama di rumah, karena ikut membantu Ibuk jualan di pasar, saya jadi tahu sedikit-banyak tentang bagaimana denyut nadi kehidupan orang-orang yang mencari rezeki dengan berjualan. Berangkat sekitar pukul 08.00 WIB dan pulang pukul 15.00 WIB, ada yang lebih pagi dan lebih sore lagi, tergantung kebutuhan mereka masing-masing.
Mereka itu termasuk pejuang nafkah yang tangguh lho. Bayangkan saja, jualan di pasar membutuhkan ketekunan, keuletan dan kesabaran tersendiri. Setiap pagi, barang dagangan dikeluarkan dari dalam kios dan ditata semenarik mungkin. Berbeda dengan pedagang di toko, yang cukup membuka pintu tokonya dan menata sedikit barang dagangannya, pedagang di pasar mengeluarkan hampir semua barang dagangannya, menata dagangan di depan dan disekeliling kios, agar calon pembeli, dapat melihat barang apa saja yang dijual di kios tersebut. Istilah penataan barang pada saat membuka kios adalah "dasar". Maka tidak heran jika dikenal istilah "buka dasar", untuk menggambarkan adanya pembeli yang melarisi pedagang, saat pedagang tersebut masih berbenah mendasarkan dagangannya. Dan jujur, prosesi dasar adalah hal yang sangat melelahkan. Padahal itu baru permulaan.:(
Keseruan mengamati dan (sedikit) menjalani kehidupan pasar, tidak berhenti pada saat dasar saja, justru aktivitas setelah dasar juga tidak kalah seru. Dalam kasus kios milik Ibuk saya, ramai-sepinya pelanggan merupakan pengalaman yang menggemaskan. Ada kalanya calon pembeli ramai-ramai berkunjung dan menawar berbagai barang yang kami dagangkan. Kalau sedang ramai-ramainya, bernafas saja rasanya sulit bukan main. Semua minta disegerakan. Semua minta dihitungkan belanjaannya. Belum lagi jika mereka semua menawar dengan harga di bawah harga kulakan. Sakitnya tuh di sini...
Tapi kondisi ramai adalah anugerah dari Tuhan yang harus di syukuri. Karena ada masa di mana pasar sangat sepi. Jangankan calon pembeli, ada orang lewat depan kios saja bersyukurnya bukan main. Dan kondisi yang paling menyesakkan dada adalah, jika kios Ibuk saya sepi, sedangkan kios sebelah ramai pengunjung. Masyaallah, itu benar-benar cobaan hidup yang sesungguhnya. Konsep "rezeki sudah ada yang mengatur" dan "setiap orang memiliki rezekinya masing-masing" benar-benar diuji pada saat momen itu. Pada saat mengalami masa-masa itu, kita benar-benar diuji kadar keikhlasan kita, ikhlas dengan rezeki kita, ikhlas dengan rezeki orang lain. Kalau mengalami fase ini, siap-siap mengelus dada dan perbanyak istighfar. :)
Nah, setelah pagi hari berjibaku dengan ritual dasar dan menjalani setengah hari bersinggungan dengan berbagai macam pembeli dan calon pembeli, saatnya pedagang pulang ketika matahari mulai tergelincir ke arah barat. Tapi pedagang di pasar tidak bisa langsung serta merta menutup kios dan pulang. Mereka harus melakukan ritual kukut. Kukut itu semacam kebalikan dari dasar. Jika dasar adalah menata barang dagangan ke luar kios, kukut adalah menata dan mengembalikan barang dagangan ke dalam kios. Ritual ini memiliki kadar kelelahan dua kali lipat dari dasar. Bagaimana tidak, tenaga pedagang sudah habis terkuras untuk dasar dan melayani pembeli, tapi masih juga harus angkut-angkut barang lagi dan menatanya ke posisi semula, seperti pada saat sebelum dasar.
Dan tahukah kamu, kegiatan dasar-jualan-kukut dilakukan setiap hari Senin-Selasa-Rabu-Kamis-Jumat-Sabtu-Minggu-Senin (lagi)-dst. Amazing yah....
Layaknya orang bisnis, para pedagang di pasar adalah kumpulan orang-orang yang tekun, ulet dan sabar dalam bekerja. Berbeda dengan orang kantoran, rezeki yang datang ke mereka sangat fluktuatif. Tidak pasti setiap harinya. Maka menjadi tidak heran jika mereka menjadi orang yang kreatif. Mereka butuh banyak strategi dalam menjalankan bisnisnya. Mulai dari penataan kios dan dasaran yang semenarik mungkin, pengadaan barang dagangan yang kira-kira cepat laku terjual, cara berjualan yang menarik pembeli, dan banyak lagi strategi lainnya yang digunakan pedagang pasar agar dagangannya laku dan dapat memutar modal perekonomian mereka. Begitulah.
Sudah ah, sekian dulu saja. Nanti pagi-pagi harus ke masjid untuk ikutan sholat Ied. Maaf lahir batin ya, Jangan lupa bayar zakat. Salam.
Mereka itu termasuk pejuang nafkah yang tangguh lho. Bayangkan saja, jualan di pasar membutuhkan ketekunan, keuletan dan kesabaran tersendiri. Setiap pagi, barang dagangan dikeluarkan dari dalam kios dan ditata semenarik mungkin. Berbeda dengan pedagang di toko, yang cukup membuka pintu tokonya dan menata sedikit barang dagangannya, pedagang di pasar mengeluarkan hampir semua barang dagangannya, menata dagangan di depan dan disekeliling kios, agar calon pembeli, dapat melihat barang apa saja yang dijual di kios tersebut. Istilah penataan barang pada saat membuka kios adalah "dasar". Maka tidak heran jika dikenal istilah "buka dasar", untuk menggambarkan adanya pembeli yang melarisi pedagang, saat pedagang tersebut masih berbenah mendasarkan dagangannya. Dan jujur, prosesi dasar adalah hal yang sangat melelahkan. Padahal itu baru permulaan.:(
Keseruan mengamati dan (sedikit) menjalani kehidupan pasar, tidak berhenti pada saat dasar saja, justru aktivitas setelah dasar juga tidak kalah seru. Dalam kasus kios milik Ibuk saya, ramai-sepinya pelanggan merupakan pengalaman yang menggemaskan. Ada kalanya calon pembeli ramai-ramai berkunjung dan menawar berbagai barang yang kami dagangkan. Kalau sedang ramai-ramainya, bernafas saja rasanya sulit bukan main. Semua minta disegerakan. Semua minta dihitungkan belanjaannya. Belum lagi jika mereka semua menawar dengan harga di bawah harga kulakan. Sakitnya tuh di sini...
Tapi kondisi ramai adalah anugerah dari Tuhan yang harus di syukuri. Karena ada masa di mana pasar sangat sepi. Jangankan calon pembeli, ada orang lewat depan kios saja bersyukurnya bukan main. Dan kondisi yang paling menyesakkan dada adalah, jika kios Ibuk saya sepi, sedangkan kios sebelah ramai pengunjung. Masyaallah, itu benar-benar cobaan hidup yang sesungguhnya. Konsep "rezeki sudah ada yang mengatur" dan "setiap orang memiliki rezekinya masing-masing" benar-benar diuji pada saat momen itu. Pada saat mengalami masa-masa itu, kita benar-benar diuji kadar keikhlasan kita, ikhlas dengan rezeki kita, ikhlas dengan rezeki orang lain. Kalau mengalami fase ini, siap-siap mengelus dada dan perbanyak istighfar. :)
Nah, setelah pagi hari berjibaku dengan ritual dasar dan menjalani setengah hari bersinggungan dengan berbagai macam pembeli dan calon pembeli, saatnya pedagang pulang ketika matahari mulai tergelincir ke arah barat. Tapi pedagang di pasar tidak bisa langsung serta merta menutup kios dan pulang. Mereka harus melakukan ritual kukut. Kukut itu semacam kebalikan dari dasar. Jika dasar adalah menata barang dagangan ke luar kios, kukut adalah menata dan mengembalikan barang dagangan ke dalam kios. Ritual ini memiliki kadar kelelahan dua kali lipat dari dasar. Bagaimana tidak, tenaga pedagang sudah habis terkuras untuk dasar dan melayani pembeli, tapi masih juga harus angkut-angkut barang lagi dan menatanya ke posisi semula, seperti pada saat sebelum dasar.
Dan tahukah kamu, kegiatan dasar-jualan-kukut dilakukan setiap hari Senin-Selasa-Rabu-Kamis-Jumat-Sabtu-Minggu-Senin (lagi)-dst. Amazing yah....
Layaknya orang bisnis, para pedagang di pasar adalah kumpulan orang-orang yang tekun, ulet dan sabar dalam bekerja. Berbeda dengan orang kantoran, rezeki yang datang ke mereka sangat fluktuatif. Tidak pasti setiap harinya. Maka menjadi tidak heran jika mereka menjadi orang yang kreatif. Mereka butuh banyak strategi dalam menjalankan bisnisnya. Mulai dari penataan kios dan dasaran yang semenarik mungkin, pengadaan barang dagangan yang kira-kira cepat laku terjual, cara berjualan yang menarik pembeli, dan banyak lagi strategi lainnya yang digunakan pedagang pasar agar dagangannya laku dan dapat memutar modal perekonomian mereka. Begitulah.
Sudah ah, sekian dulu saja. Nanti pagi-pagi harus ke masjid untuk ikutan sholat Ied. Maaf lahir batin ya, Jangan lupa bayar zakat. Salam.
Jepara, 16 Juli 2015

