creativity

creativity
karya salah satu muridku :)

Kamis, 26 Maret 2015

Ibuk

Seperti hari ini, pada tanggal dan bulan yang sama di tahun 1990, aku lahir di dunia ini. Pada tanggal, bulan dan tahun itu juga, Ibuk genap berusia 22 tahun, 25 hari. Kala itu, Ibuk melahirkan bayi perempuan yang katanya lucu dan menggemaskan.
***
Ibuk menikah dengan Bapak di usia 18 tahun, usia yang lumrah untuk menikah saat itu. Berawal dari hubungan sebagai guru-murid, Bapak dan Ibuk kemudian menjadi pasangan suami-istri. Tapi tidak seperti pasangan pengantin baru kebanyakan. Setelah menikah, Bapak dan Ibuk masih melanjutkan study alias mondok di pesantren, sehingga untuk sementara waktu mereka hidup terpisah.

Kota Kediri, adalah salah satu kota di mana Ibuk menghabiskan waktu di pondok untuk nderes dan nglalar al-Quran. Sempat kudengar, di kota inilah aku ikut mondok meskipun masih di dalam kandungan Ibuk.

Ibuk hafidhzah sedari kecil; hasil didikan keras tapi mentas dari Mbah Kakung. Aku kurang tahu sejak kapan Ibuk khatam 30 Juz. Entah sebelum menikah, entah setelah menikah. Tapi yang jelas sampai sekarang Ibuk tetap menjaga hafalannya. 

Perjalanan hidupnya sebelum menikah dihabiskan untuk belajar tentang banyak hal. Bapak pernah bercerita, kalau Ibuk dulu bintang kelas; predikat murid terpandai jaman dahulu. Ilmu Shorof dan Nahwu dasar dikuasainya. Sampai sekarang pun Ibuk masih hafal. 

Untuk urusan memasak, Ibuk juaranya. Menjadi anak kedua dari empat bersaudara (yang berhasil hidup), Ibuk dituntut dengan sendirinya untuk bisa memasak. Pekerjaan dapur itu telah Ibuk kuasai dari kecil. Mulai dari masakan rumah sehari-hari, masakan berat ala perayaan, kue kering-basah, aneka kudapan, dan berbagai jenis masakan lainnya. kalau pun itu masakan asing, baru, atau aneh, asal ada resepnya, sepertinya gampang sekali kalau Ibuk yang menyajikan. dan terbukti rasanya Enak se-Dunia. Tapi jangan pernah request ke Ibuk untuk memasak olahan Lele dan Bebek. Ibuk bakal menolak mentah-mentah.

Ibuk sedikit banyak juga bisa menjahit; baik menggunakan tangan maupun dengan mesin jahit. Beberapa kurung bantal dan guling di rumah adalah hasil karya Ibuk. Celana bolong, kancing lepas atau kolor yang sudah kendor juga menjadi obyek reparasinya Ibuk.

Ibuk sempat tinggal di Ibu Kota mengikuti Bapak yang kala itu sedang kuliah di IAIN. Kami bertiga tinggal di kontrakan sederhana di daerah dekat kampus. Tapi, tidak berselang lama, Ibuk dan aku yang masih bayi, kembali ke kampung halaman karena mengalami insiden. Kontrakan kami mengalami kebakaran. Menurut cerita, ada tetangga kontrakan kami yang gordennya terbakar lilin kemudian terjadi kebakaran dan menyebar ke kontrakan sekitarnya. Ibuk saat itu sedang istirahat setelah mencuci pakaian. Melihat api yang semakin membesar, Ibuk buru-buru menggendongku dan berlari tanpa alas kaki keluar kontrakan. Sementara itu, Bapak sedang tidak di kontrakan karena mengajar ngaji di Masjid yang agak jauh dari kontrakan. Mungkin karena trauma, atau karena tidak cocok tinggal di sana, kami berdua akhirnya kembali ke kampung. Nasib membawa Ibuk dan aku kembali ke Pecangaan Wetan, sebuah desa di Jepara.

Tahun-tahun berikutnya, terlebih setelah Bapak wisuda S1 dan kembali lagi ke kampung, Ibuk berperan sebagai Ibu rumah tangga di rumah kecil kami. Segala urusan mulai dari dapur, membereskan rumah, mencuci, menyetrika, belanja semua dihandle Ibuk. Belum lagi mengurus aku, dan dua adikku yang masih ingusan. Benar-benar multitasking.
***
Ibuk, Ibukku yang telah menjadi salah satu sebab aku hadir di dunia ini, telah banyak melalui hari-hari. Sampai detik ini, cerita-cerita tentang hidupnya masih terus berjalan. 

Ibuk, di usia 22 tahun lebih 25 hari; 25 tahun yang lalu, telah melalui proses pendewasaan diri secara alami. Tapi bagiku, sempurna. 

Ibuk telah menjalani fase kanak-kanak dengan penuh semangat belajar dan tanggungjawab. 

Fase remaja juga telah dilalui Ibuk dengan berani berkomitmen membangun rumah tangga bersama Bapak.

memasuki fase dewasa, Ibuk juga telah membuktikan kehebatannya menjadi ibu rumah tangga yang telah dikaruniai tiga anak dengan berbagai cerita dan persoalannya.
***
Ibuk, Ibukku yang selalu menyertai tumbuh-kembangku selama 25 tahun ini dan semoga di tahun-tahun berikutnya.

Ibuk, Ibukku yang telah dan selalu berperan sebagai Ibu, baik 25 tahun yang lalu, sekarang, maupun selama-lamanya.

Ibuk, Ibukku yang selalu mendo'akan anaknya, tanpa perlu diminta, sepanjang waktu.
***
Ibuk, Ibukku sayang....
Hari ini anakmu genap memasuki usia seperempat abad.
Usia dimana telah kau lalui dengan pencapaian gemilang.
Usia dimana kau telah menjadi wanita sempurna.
Usia dimana kau telah menjadi Ibukku.
Usia dimana aku telah lahir dari rahimmu.

Ibuk, Ibukku sayang....
Hari ini anakmu berusia perak.
Hari ini anakmu masih menjadi anak.
Yang masih meraba-raba masa depan.
Yang masih sibuk merangkai impian.
Yang masih memeluk harapan.

Ibuk, Ibukku sayang....
Selamat berulang tanggal, bulan, tahun;
dimana aku kau lahirkan.


Perpustakaan UGM, 26 Maret 2015












Tidak ada komentar: