Kali ini saya mengawali bulan Ramadhan dan insyaallah juga akan menghabiskan 30 hari ke depan di rumah--Jepara. Hal yang sudah lama tidak saya jalani hampir sepuluh tahun. Enam tahun pertama masa perantauan, saya ber-Ramadhan di Jogja, tahun ketujuh terdampar di Bekasi, tahun kedelapan kesasar di Karimunjawa, dan dua tahun terakhir kemarin balik lagi ke Jogja.
Ada banyak pertimbangan ketika akhirnya saya memilih untuk menghabiskan Ramadhan kali ini di rumah. Rasa kangen dan kenangan masa kecil tentang indahnya Ramadhan di rumah menjadi salah satu alasannya. Dan saya ingin kembali merasakannya.
Dulu, seingat saya, Ramadhan identik dengan ngaji posonan, jalan-jalan pagi, ngabuburit di sawah atau kali dan berisiknya tong-tek sahur.
Setiap Ramadhan, saya ngaji posonan di madrasah dekat rumah. Mungkin dulu alasannya simple, karena teman-teman madrasah dan teman kampung juga ikutan, kan seru kalau rame-rame. Ada banyak pilihan kitab yang dikaji. Biasanya seputar fiqh, hadis, akhlaq dan tauhid. Pilihan jadwal ngajinya pun beragam, mulai dari bakdha Subuh, Bakdha Ashar atau menjelang berbuka, hingga Bakdha Tarawih. Pesertanya? Dari berbagai kalangan dan berbagai umur. Kitab yang paling laris dipilih selama posonan, tak lain dan tak bukan adalah kitab Qurrotul Uyun, yang sampai saat ini, saya belum pernah mengajinya. :(
Selain ngaji, jalan-jalan pagi juga menjadi kegiatan rutin selama Ramadhan. Jadwal masuk sekolah selama bulan puasa biasanya dimundurin agak siang. Daripada bingung di rumah, biasanya saya dan saudara atau tetangga jalan-jalan pagi sampai pasar atau belakang terminal. Tapi kalau jalan-jalan pagi kayaknya agak gak rutin. Karena, yah...biasanya sehabis subuh juga kembali tidur...
Nah, baru sore harinya, saya rutin ngabuburit menunggu buka puasa. Rumah saya tidak terlalu jauh dari sawah, mungkin 1 Km-an lah. Kalau rame-rame bareng saudara, biasanya naik sepeda. Tapi kalau sendirian, saya naik sepeda motor. Daripada di rumah sebel sendiri menunggu muadzin yang tidak kunjung adzan, saya memilih melihat hijaunya sawah atau derasnya kali Bongpes.
Dan yang paling seru di bulan Ramadhan adalah mendengar tong-tek sebelum sahur. Banyak sekali anak-anak muda dari berbagai komunitas RT atau Musholla yang punya tenaga lebih dan waktu yang selo untuk bergerilya malam-malam setiap hari selama bulan Ramadhan. Terkadang saya salut sama mereka, pahalanya banyak--mbangunin orang sahur plus juga memberi hiburan gratis di tengah malam buta. Apalagi kualitas tong-tek selalu meningkat dari tahun ke tahun. Dulu awalnya cuma menggunakan kayu/bambu sebagai instrumennya. Lalu meningkat ada yang menggunakan gitar dan harmonika. Terakhir yang saya tahu, ada yang menggunakan organ dan drum. Luar biasaaa. Belum lagi kualitas musikalitas yang mereka bawakan. Tidak cuma tong-tek-tong-tek, mereka sudah mahir membawakan berbagai jenis lagu, mulai dari dangdut sampai pop. Sayangnya belum ada contact person yang bisa dihubungi, kalau ada kan saya bisa request lagu...Tapi terkadang mereka juga bikin sebel. Pertama, karena mereka memulai penampilannya jam 1 malam. Siapa coba yang mau sahur jam segitu? Kedua, kadang nge-time/ ngedon di depan rumah lamaaa banget, sampai bikin orang susah tidur.
Apakah Ramadhan kali ini saya masih merasakan indahnya Ramadhan seperti beberapa tahun silam?
Ramadhan tetaplah dan akan selalu indah. Tapi tentu adalah hal yang sangat naif jika saya mengharapkan suasana Ramadhan sekarang sama dengan suasana Ramadhan sepuluh tahun yang lalu. Desa saya sudah banyak berubah. Suasana Madrasah juga sudah banyak berubah. Dan yang lebih penting, saya juga sudah berubah. Saya bukan lagi remaja SMP seperti sepuluh tahun yang lalu.
Oh waktu, ternyata kau cepat sekali berlalu......

2 komentar:
Wah kalau mbak pernah nyasar di Karimunjawa, sekarang aku nggak bisa mudik ke Karimunjawa dan tertahan di Jepara karena ombak haaaa. Dulu kkn di jelamun tahun berapa mbak? haaa
Ombaknya lagi tinggi ya? Semoga cepet normal ya...
Dulu Kkn Tahun 2012. Pas itu dibagi di tiga dusun; Jelamun, Batu lawang dan Telaga. Kebetulan aku yg dapat Jelamun. Jadi paling deket sama Kemujan. Kalo ada acara apa-apa yg lebih sering diundang ya kelompokku. Karena mungkin paling dekat jaraknya. Kayak buber di MTs-MA, pak Hisyam Zamroni ngundangnya cuma sub unit Jelamun. Terus pas bikin program mengajar di SD, dapetnya ya SD Kemujan 1. Jadi kenal pak Ali (eh, bener ga sih namanya? Yang ngajar kelas 5-6?) sama murid-muridnya yang kebanyakan anak Kemujan. Duh, pokoknya berkesan banget ya di sana...Belum lagi pantai-pantainya yang relatif gampang dijangkau, keren pokoknya...😀
Posting Komentar