creativity

creativity
karya salah satu muridku :)

Senin, 27 April 2015

Wonderful Saturday (Part 1: Senam)

Hari ini sepertinya hari Sabtu yang tersibuk dibandingkan hari Sabtu saya sebelum-sebelumnya. Meskipun begitu saya tetap semangat dan ceria selama menjalani agenda saya :)
Ceritanya, saya dan lima teman saya mau ikut senam sehat yang diadakan KPK: SPAK (Saya Perempuan Anti Korupsi) di lapangan Amongrogo Yogyakarta. Makanya, kami berenam sudah ribut persiapan dari pagi.
Sambil manasin motor dan menunggu teman yang masih siap-siap, saya ngobrol-ngobrol di depan gerbang pondok.
Sedang enak-enaknya ngobrol, dari kejauhan saya melihat Bu Nyai berjalan ke arah kami. Aduh reeek....gimana ini? Mau salim tangan, tapi tadi pagi mbolos ngaji di mushalla. Mau kabur, tapi kok kepalang basah. Akhirnya ya sudahlah...saya turun dari motor, salim dan nyium tangan Bu Nyai.

"Arep neng ndi La? Senam tah...", tanya Bu Nyai.

"Nggih...", jawab saya sambil ketawa malu ga jelas.

"Iku lho sandal-sandal disingkerke, ngono iku yo wes senam, sehat...", ujar Bu Nyai sambil menunjuk sandal-sandal tak berpasangan yang bertebaran dan berserakan dimana-mana.

"Nggih...", jawab saya lagi.

Sambil masih ketawa malu ga jelas, akhirnya saya dan teman-teman membereskan sandal dulu.
Kami mengambil kresek dan memasukkan sandal-sandal itu ke dalamnya. Hup..hup...hup... Cukup banyak ternyata. Ada tiga kresek berisi sandal yang dapat kami kumpulkan. Agar menyatu dan tidak tercerai berai lagi, kami masukkan kresek itu ke kardus. Seeet...sudah selesai. Lumayan lah buat pemanasan senam.
Melihat sudah lumayan beres, kami akhirnya berangkat menuju lapangan.

kumpulan sandal-sandal yang kami satukan

Sesampainya di TKP, kami menuju ke meja penerima tamu untuk mendaftar ulang.
Berhubung diantara kami ada yang sudah mendaftar ada yang belum, maka kami yang belum mendaftar tidak mendapat bingkisan fasilitas berupa kaos, tas, pin, booklet, snack dan air minum. Sedihnyaaa...
Walhasil kami masuk dengan tangan setengah kosong.

Untungnya, pas sedang nyari posisi senam yang strategis, kami ditanya seorang ibu, "lho kaosnya mana? Kok ga dipakai?"

"Ga dapat bu, soalnya kemaren daftar tapi kuotanya penuh", jawab sebagian dari kami.

"Ya sudah, sini ikut saya...", ajak ibunya sambil jalan ke arah panitia.

Teman saya yang belum mendapat kaos dll. itu pun membuntuti ibu tadi.

Dan tidak berselang lama, teman saya sudah kembali dan menenteng tas berisi kaos dll. Alhamdulillah... Senangnyaaaa....

Kemudian kami mencari posisi senam yang strategis. Karena yang datang baru sekitar lima puluh orang, kami mendapat tempat lumayan depan.

"Teng...treng...teng...treng...."

Terdengar suara musik ala senam. Pertanda senam akan segera dimulai.

"Satu...dua...tiga..yaaak..."

Akhirnya senam pun dimulai.

Mbak instruktur senam sudah naik ke panggung dan memberi aba-aba. Kami melakukan gerakan pemanasan dulu agar tidak kaget otot-ototnya.


https://twitter.com/alissawahid

"Treng...teng...treng...teeeng....."

Diiringi lagu dangdut remix ala senam, kami mengikuti gerakan yang dicontohkan mbak instruktur.
Barisan senam kami teratur dan kompak. Hampir semua dari kami langsung bisa mengikuti gerakan aerobik tersebut. Sehat, bugar dan bahagia nampak tercermin dari gerakan-gerakan kami. Kontras sekali dengan langit yang mendung di atas kami. Kanan-kiri. Gerakan senam kami seperti menari. Sampai tidak terasa kalau gerakan senam sudah sampai pada tahap pendinginan.

Setelah senam selesai, kami istirahat sejenak dan duduk-duduk bebas di lapangan. Sambil menunggu persiapan orasi budaya, kami nyemil snack yang disediakan oleh panitia. Isi snacknya adalah arem-arem dan kacang godhog! "Waaaaah....keren...", puji saya dalam hati. Ini namanya pro swasembada pangan nih. Tidak hanya mengajarkan anti Korupsi, tapi juga menanamkan cinta produk lokal dan budaya merakyat. Salut untuk panitia yang mempersiapkan segala hal dengan detail dan baik :)


selfie bareng sambil istirahat nunggu orasi budaya
Orasi budaya dibuka oleh Bu Alim sebagai ketua panitia. Usut punya usut, bu Alim adalah ibu-ibu yang tadi membantu teman-teman saya mendapatkan fasilitas kaos dll. Terimakasih bu Alim. Anda baik sekali...:)

Selain bu Alim, ada beberapa nama yang juga mengisi orasi budaya. Semuanya saya lupa, kecuali mbak Alissa Wahid. Hihihi, maklum, short term memory...

Dalam pidatonya, mbak Alissa mengajak kami -perempuan Indonesia- untuk aktif melawan korupsi. Kenapa perempuan? karena perempuan adalah bagian dari warga negara Indonesia. Jumlah perempuan di Indonesia adalah setengah lebih sedikit dari jumlah total penduduk Indonesia. Kami punya kewajiban dan hak yang sama untuk turut andil dalam memberantas korupsi. Jika kami semua berperan aktif sebagai agen anti korupsi, kami dapat menciptakan Indonesia bebas dari korupsi, minimal 50%.

Simbah putri dan cucunya ikut menyimak orasi budaya dari mbak Alissa Wahid

Lebih lanjut, Mbak Alissa bercerita mengenai jahatnya korupsi. Akses pendidikan dan kesehatan yang mahal dan tidak dinikmati oleh semua orang, harga-harga kebutuhan pokok yang semakin meningkat, fasilitas publik yang jelek, jalan berlubang yang tidak diperbaiki, dan masih banyak lagi penderitaan yang dialami oleh kita sebagai warga negara, adalah akibat dari merajalelanya korupsi. Dilain pihak, dana yang seharusnya digunakan untuk memperbaiki gedung sekolah yang roboh, biaya rumah sakit bagi warga negara, dan fasilitas umum bagi seluruh masyarakat Indonesia malah dikorupsi untuk membeli mobil mewah, rumah mentereng dan aset pribadi oleh pejabat yang katanya terhormat. Sungguh kejam sekali akibat dan dampak dari korupsi.

Untuk itulah, kita sebagai perempuan Indonesia harus bisa menjadi agen anti korupsi!

Selain sebagai agen anti korupsi, mbak Alissa juga memberi semangat dan dorongan kepada kami, perempuan Indonesia, untuk bisa berdaya dan memberdayakan masyarakat serta lingkungan sekitarnya. Sebagai seorang psikolog, khususnya psikolog keluarga, mbak Alissa menjelaskan secara umum jika perempuan bisa mapan atau sejahtera secara finansial maka keluarganya juga akan sejahtera. Karena perempuan secara psikologis akan memperhatikan dan mengusahakan kesejahteraan anggota keluarganya. Berbeda dengan laki-laki, jika laki-laki kuat secara finansial, mereka akan mengalokasikan hartanya untuk kepentingan dan kebutuhannya sendiri (itu menurut ilmu psikologi lho....). Jadi, kebayang kan kalau seandainya ibu-ibu kita, teman-teman perempuan kita bisa kuat secara finansial, maka keluarganya akan hidup dengan kesejahteraan.

Sebenarnya masih banyak penjelasan yang menarik dari mbak Alissa. Tapi berhubung saya bingung bagaimana menulisnya, jadi hanya itu saja dulu, hihihihihi.

Kesampaian juga foto bareng dengan mbak Alissa Wahid

Selesai orasi budaya, kami disuguhi hiburan orkes, cek kesehatan gratis dan berbagai permainan yang menarik.

Saya dan teman-teman memilih untuk menuju ke kain putih panjang yang digelar di lapangan sebagai bukti agen SPAK dengan cara cap tangan anti korupsi. Saya mencelupkan tangan saya ke dalam cat dan hup, telapak tangan saya berada di atas kain putih. Saya Perempuan Anti Korupsi!

saya dan cap tangan saya, abaikan sandal jepit saya

Hari semakin siang, saya dan teman-teman memutuskan untuk balik ke pondok. Kami berenam menuju tempat parkir dan mengambil motor masing-masing. Saatnya pulang.

Sampai di pondok, setelah sebelumnya mampir dulu di pasar Prawirotaman untuk membeli buah-buahan, saya istirahat sebentar. Karena nanti sore jam 15.00 WIB, saya mempunyai agenda diskusi di PKKH UGM. Selamat siang, selamat istirahat :)


Krapyak, 25 April 2015


Jumat, 24 April 2015

Nariyyah, Bu Nyai, dan Pengalaman Organisasi

Ritual malam jum'at kami kemarin agak berbeda dari malam jum'at sebelum-sebelumnya. Agenda pembacaan maulid dziba'i atau terkadang diganti maulid barzanji yang rutin dibaca tiap malam Jum'at diganti pembacaan shalawat nariyyah yang dipimpin langsung oleh Bu Nyai.

Mushalla yang biasanya ga penuh-penuh amat, kadang malah sepi, malam itu penuh sesak sampai saling ndesel. Tumplek-bleg santri R1 dan R2. Berhubung jamaahnya buanyaaak, setiap orang dari kami kejatahan mbaca nariyyah 44 kali, yang biasanya 100 kali.

Begitu majelis dibuka Bu Nyai dengan Al-Fatihah, semua dari kami sibuk dengan bacaan masing-masing. Ada yang sudah hafal di luar kepala dan merapalkan bacaan layaknya merapalkan mantra. Ada yang masih pegang kertas meskipun bacaannya juga super cepat. Ada yang masih tertatih mbaca nariyyah sambil melihat kertas. Tapi semua khusyuk dengan bacaan dan hitungannya sendiri. Tidak sampai setengah jam kami semua telah selesai membaca shalawat nariyyah yang ditutup dengan do'a dari Bu Nyai.

Begitu selesai, salah satu pengurus mengumumkan kalau malam itu ada rapat agenda tahunan pondok dan pembacaan LPJ pengurus Komplek R2. Dengan sendirinya santri Komplek R1 kembali ke kamar masing-masing, meninggalkan saudaranya, santri Komplek R2 yang masih mempunyai agenda lanjutan.

Saya tidak akan cerita tentang rapat dan jalannya diskusi plus sanggahan, karena cerita kali ini adalah mengenai Bu Nyai.

*****
Singkat cerita, Bu Nyai sebagai pengasuh Komplek R2, memberikan sambutannya dalam pembukaan rapat agenda tahunan Komplek R2. Sebagai starting point, Bu Nyai menyindir kami dengan bertanya kenapa kok malam ini mushalla penuh, padahal kalau jama'ah hanya ada satu, dua, tiga. Memang jama'ah di mana? Madinah? (yaaah...jadi malu...)

Disiplin kami di pondok dipertanyakan. Padahal pondok mempunyai tradisi baik, yaitu bangun pagi sebelum subuh dan shalat jama'ah di setiap waktu shalat. Tapi kok kami...(maafkan anakmu ini bu...bandel dan malasnya keterlaluan..)

Memang unik dan menarik kalau melihat gaya bicara Bu Nyai, tidak marah-marah, terkadang lucu, tapi mengena.

bu nyai
Bu Nyai dalam sambutan rapat tahunan tadi malam. Abaikan kualitas foto yang kurang :)
Malam itu, karena didaulat untuk mengisi sambutan rapat tahunan dan LPJ, Bu Nyai banyak bercerita mengenai organisasi.

Beliau bercerita, pertama kali aktif berkecimpung di organisasi ketika berada di level sekolah menengah pertama. Kala itu beliau bergabung di IPPNU Komisariat. Berlanjut di level sekolah menengah atas, beliau aktif di OSIS. Organisasi seperti Muslimat NU, PKB, dan P3M adalah sebagian dari banyaknya organisasi yang pernah digeluti beliau. Sampai kemudian, banyaknya pengalaman organisasi mengantarkan beliau menjadi anggota DPRD Bantul selama dua periode.

Dalam konteks pengalaman berorganisasi, beliau berpesan kepada kami semua, bahwa organisasi merupakan tempat belajar. Belajar berinteraksi, belajar menyatakan pendapat, dan belajar bermasyarakat. Kalau kita terbiasa berorganisasi, kita akan menjadi orang yang lincah, cekatan dan dapat diandalkan dimana pun berada. Beliau menyebutnya siap pakai. Jadilah orang yang siap pakai. Dimana pun berada, bisa memberi manfaat. Tidak gagap dengan lingkungan dan luwes terhadap masyarakat. jangan sampai menjadi orang yang ketika terjun ke tengah masyarakat masih bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.

Sambutan dari Bu Nyai ditutup dengan cerita-cerita lucu nan romantis dari beliau sebagai seorang istri dan ibu. Segar dan inspiratif...


Perpustakaan UGM, 24 April 2015

Senin, 20 April 2015

Benakku (7)

Kagum dengan orang-orang yang bisa menguasai dirinya sendiri, menyadari kelebihan dan kekurangannya sendiri, lalu menjadikannya sebagai kekuatan untuk selalu terus maju.

Facebook, 17 Desember 2011

Benakku (6)

[In the Busway-Jakarta]

Memaknai perjalanan ini sebagai miniatur perjalanan hidupku.
Berkali-kali salah jalur, berkali-kali galau di jalan, berkali-kali berdoa semoga sampai tujuan.
Pada akhirnya jalan yang telah terlalui menjadi sumber referensiku, menjadi peta hidupku, menjadi pemacu semangatku untuk melihat semua ini bagian dari sebuah pengalaman yang begitu berharga.

Facebook, 18 Desember 2011




Minggu, 19 April 2015

Benakku (5)

Aku ingin seperti Amoeba yang bisa membelah diri menjadi banyak dan menyelesaikan semua masalah-masalahku seketika. Atau seperti tarantula yang punya banyak tangan sehingga bisa cepat menyelesaikan pekerjaan. Tapi aku hanyalah manusia biasa yang mempunyai keterbatasan ruang dan waktu.


Facebook, 24 Januari 2015