Ritual malam jum'at kami kemarin agak berbeda dari malam jum'at sebelum-sebelumnya. Agenda pembacaan maulid dziba'i atau terkadang diganti maulid barzanji yang rutin dibaca tiap malam Jum'at diganti pembacaan shalawat nariyyah yang dipimpin langsung oleh Bu Nyai.
Mushalla yang biasanya ga penuh-penuh amat, kadang malah sepi, malam itu penuh sesak sampai saling ndesel. Tumplek-bleg santri R1 dan R2. Berhubung jamaahnya buanyaaak, setiap orang dari kami kejatahan mbaca nariyyah 44 kali, yang biasanya 100 kali.
Begitu majelis dibuka Bu Nyai dengan Al-Fatihah, semua dari kami sibuk dengan bacaan masing-masing. Ada yang sudah hafal di luar kepala dan merapalkan bacaan layaknya merapalkan mantra. Ada yang masih pegang kertas meskipun bacaannya juga super cepat. Ada yang masih tertatih mbaca nariyyah sambil melihat kertas. Tapi semua khusyuk dengan bacaan dan hitungannya sendiri. Tidak sampai setengah jam kami semua telah selesai membaca shalawat nariyyah yang ditutup dengan do'a dari Bu Nyai.
Begitu selesai, salah satu pengurus mengumumkan kalau malam itu ada rapat agenda tahunan pondok dan pembacaan LPJ pengurus Komplek R2. Dengan sendirinya santri Komplek R1 kembali ke kamar masing-masing, meninggalkan saudaranya, santri Komplek R2 yang masih mempunyai agenda lanjutan.
Saya tidak akan cerita tentang rapat dan jalannya diskusi plus sanggahan, karena cerita kali ini adalah mengenai Bu Nyai.
*****
Singkat cerita, Bu Nyai sebagai pengasuh Komplek R2, memberikan sambutannya dalam pembukaan rapat agenda tahunan Komplek R2. Sebagai starting point, Bu Nyai menyindir kami dengan bertanya kenapa kok malam ini mushalla penuh, padahal kalau jama'ah hanya ada satu, dua, tiga. Memang jama'ah di mana? Madinah? (yaaah...jadi malu...)
Disiplin kami di pondok dipertanyakan. Padahal pondok mempunyai tradisi baik, yaitu bangun pagi sebelum subuh dan shalat jama'ah di setiap waktu shalat. Tapi kok kami...(maafkan anakmu ini bu...bandel dan malasnya keterlaluan..)
Memang unik dan menarik kalau melihat gaya bicara Bu Nyai, tidak marah-marah, terkadang lucu, tapi mengena.
![]() |
| Bu Nyai dalam sambutan rapat tahunan tadi malam. Abaikan kualitas foto yang kurang :) |
Malam itu, karena didaulat untuk mengisi sambutan rapat tahunan dan LPJ, Bu Nyai banyak bercerita mengenai organisasi.
Beliau bercerita, pertama kali aktif berkecimpung di organisasi ketika berada di level sekolah menengah pertama. Kala itu beliau bergabung di IPPNU Komisariat. Berlanjut di level sekolah menengah atas, beliau aktif di OSIS. Organisasi seperti Muslimat NU, PKB, dan P3M adalah sebagian dari banyaknya organisasi yang pernah digeluti beliau. Sampai kemudian, banyaknya pengalaman organisasi mengantarkan beliau menjadi anggota DPRD Bantul selama dua periode.
Dalam konteks pengalaman berorganisasi, beliau berpesan kepada kami semua, bahwa organisasi merupakan tempat belajar. Belajar berinteraksi, belajar menyatakan pendapat, dan belajar bermasyarakat. Kalau kita terbiasa berorganisasi, kita akan menjadi orang yang lincah, cekatan dan dapat diandalkan dimana pun berada. Beliau menyebutnya siap pakai. Jadilah orang yang siap pakai. Dimana pun berada, bisa memberi manfaat. Tidak gagap dengan lingkungan dan luwes terhadap masyarakat. jangan sampai menjadi orang yang ketika terjun ke tengah masyarakat masih bingung dan tidak tahu harus berbuat apa.
Sambutan dari Bu Nyai ditutup dengan cerita-cerita lucu nan romantis dari beliau sebagai seorang istri dan ibu. Segar dan inspiratif...
Perpustakaan UGM, 24 April 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar