Hari ini sepertinya hari Sabtu yang tersibuk dibandingkan hari Sabtu saya sebelum-sebelumnya. Meskipun begitu saya tetap semangat dan ceria selama menjalani agenda saya :)
Ceritanya, saya dan lima teman saya mau ikut senam sehat yang diadakan KPK: SPAK (Saya Perempuan Anti Korupsi) di lapangan Amongrogo Yogyakarta. Makanya, kami berenam sudah ribut persiapan dari pagi.
Sambil manasin motor dan menunggu teman yang masih siap-siap, saya ngobrol-ngobrol di depan gerbang pondok.
Sedang enak-enaknya ngobrol, dari kejauhan saya melihat Bu Nyai berjalan ke arah kami. Aduh reeek....gimana ini? Mau salim tangan, tapi tadi pagi mbolos ngaji di mushalla. Mau kabur, tapi kok kepalang basah. Akhirnya ya sudahlah...saya turun dari motor, salim dan nyium tangan Bu Nyai.
"Arep neng ndi La? Senam tah...", tanya Bu Nyai.
"Nggih...", jawab saya sambil ketawa malu ga jelas.
"Iku lho sandal-sandal disingkerke, ngono iku yo wes senam, sehat...", ujar Bu Nyai sambil menunjuk sandal-sandal tak berpasangan yang bertebaran dan berserakan dimana-mana.
"Nggih...", jawab saya lagi.
Sambil masih ketawa malu ga jelas, akhirnya saya dan teman-teman membereskan sandal dulu.
Kami mengambil kresek dan memasukkan sandal-sandal itu ke dalamnya. Hup..hup...hup... Cukup banyak ternyata. Ada tiga kresek berisi sandal yang dapat kami kumpulkan. Agar menyatu dan tidak tercerai berai lagi, kami masukkan kresek itu ke kardus. Seeet...sudah selesai. Lumayan lah buat pemanasan senam.
Melihat sudah lumayan beres, kami akhirnya berangkat menuju lapangan.
Melihat sudah lumayan beres, kami akhirnya berangkat menuju lapangan.
![]() |
| kumpulan sandal-sandal yang kami satukan |
Sesampainya di TKP, kami menuju ke meja penerima tamu untuk mendaftar ulang.
Berhubung diantara kami ada yang sudah mendaftar ada yang belum, maka kami yang belum mendaftar tidak mendapat bingkisan fasilitas berupa kaos, tas, pin, booklet, snack dan air minum. Sedihnyaaa...
Walhasil kami masuk dengan tangan setengah kosong.
Untungnya, pas sedang nyari posisi senam yang strategis, kami ditanya seorang ibu, "lho kaosnya mana? Kok ga dipakai?"
"Ga dapat bu, soalnya kemaren daftar tapi kuotanya penuh", jawab sebagian dari kami.
"Ya sudah, sini ikut saya...", ajak ibunya sambil jalan ke arah panitia.
Teman saya yang belum mendapat kaos dll. itu pun membuntuti ibu tadi.
Dan tidak berselang lama, teman saya sudah kembali dan menenteng tas berisi kaos dll. Alhamdulillah... Senangnyaaaa....
Kemudian kami mencari posisi senam yang strategis. Karena yang datang baru sekitar lima puluh orang, kami mendapat tempat lumayan depan.
"Teng...treng...teng...treng...."
Terdengar suara musik ala senam. Pertanda senam akan segera dimulai.
"Satu...dua...tiga..yaaak..."
Akhirnya senam pun dimulai.
Akhirnya senam pun dimulai.
Mbak instruktur senam sudah naik ke panggung dan memberi aba-aba. Kami melakukan gerakan pemanasan dulu agar tidak kaget otot-ototnya.
![]() |
| https://twitter.com/alissawahid |
"Treng...teng...treng...teeeng....."
Diiringi lagu dangdut remix ala senam, kami mengikuti gerakan yang dicontohkan mbak instruktur.
Barisan senam kami teratur dan kompak. Hampir semua dari kami langsung bisa mengikuti gerakan aerobik tersebut. Sehat, bugar dan bahagia nampak tercermin dari gerakan-gerakan kami. Kontras sekali dengan langit yang mendung di atas kami. Kanan-kiri. Gerakan senam kami seperti menari. Sampai tidak terasa kalau gerakan senam sudah sampai pada tahap pendinginan.
Setelah senam selesai, kami istirahat sejenak dan duduk-duduk bebas di lapangan. Sambil menunggu persiapan orasi budaya, kami nyemil snack yang disediakan oleh panitia. Isi snacknya adalah arem-arem dan kacang godhog! "Waaaaah....keren...", puji saya dalam hati. Ini namanya pro swasembada pangan nih. Tidak hanya mengajarkan anti Korupsi, tapi juga menanamkan cinta produk lokal dan budaya merakyat. Salut untuk panitia yang mempersiapkan segala hal dengan detail dan baik :)
Orasi budaya dibuka oleh Bu Alim sebagai ketua panitia. Usut punya usut, bu Alim adalah ibu-ibu yang tadi membantu teman-teman saya mendapatkan fasilitas kaos dll. Terimakasih bu Alim. Anda baik sekali...:)
Selain bu Alim, ada beberapa nama yang juga mengisi orasi budaya. Semuanya saya lupa, kecuali mbak Alissa Wahid. Hihihi, maklum, short term memory...
Dalam pidatonya, mbak Alissa mengajak kami -perempuan Indonesia- untuk aktif melawan korupsi. Kenapa perempuan? karena perempuan adalah bagian dari warga negara Indonesia. Jumlah perempuan di Indonesia adalah setengah lebih sedikit dari jumlah total penduduk Indonesia. Kami punya kewajiban dan hak yang sama untuk turut andil dalam memberantas korupsi. Jika kami semua berperan aktif sebagai agen anti korupsi, kami dapat menciptakan Indonesia bebas dari korupsi, minimal 50%.
Lebih lanjut, Mbak Alissa bercerita mengenai jahatnya korupsi. Akses pendidikan dan kesehatan yang mahal dan tidak dinikmati oleh semua orang, harga-harga kebutuhan pokok yang semakin meningkat, fasilitas publik yang jelek, jalan berlubang yang tidak diperbaiki, dan masih banyak lagi penderitaan yang dialami oleh kita sebagai warga negara, adalah akibat dari merajalelanya korupsi. Dilain pihak, dana yang seharusnya digunakan untuk memperbaiki gedung sekolah yang roboh, biaya rumah sakit bagi warga negara, dan fasilitas umum bagi seluruh masyarakat Indonesia malah dikorupsi untuk membeli mobil mewah, rumah mentereng dan aset pribadi oleh pejabat yang katanya terhormat. Sungguh kejam sekali akibat dan dampak dari korupsi.
Untuk itulah, kita sebagai perempuan Indonesia harus bisa menjadi agen anti korupsi!
Selain sebagai agen anti korupsi, mbak Alissa juga memberi semangat dan dorongan kepada kami, perempuan Indonesia, untuk bisa berdaya dan memberdayakan masyarakat serta lingkungan sekitarnya. Sebagai seorang psikolog, khususnya psikolog keluarga, mbak Alissa menjelaskan secara umum jika perempuan bisa mapan atau sejahtera secara finansial maka keluarganya juga akan sejahtera. Karena perempuan secara psikologis akan memperhatikan dan mengusahakan kesejahteraan anggota keluarganya. Berbeda dengan laki-laki, jika laki-laki kuat secara finansial, mereka akan mengalokasikan hartanya untuk kepentingan dan kebutuhannya sendiri (itu menurut ilmu psikologi lho....). Jadi, kebayang kan kalau seandainya ibu-ibu kita, teman-teman perempuan kita bisa kuat secara finansial, maka keluarganya akan hidup dengan kesejahteraan.
Sebenarnya masih banyak penjelasan yang menarik dari mbak Alissa. Tapi berhubung saya bingung bagaimana menulisnya, jadi hanya itu saja dulu, hihihihihi.
Selesai orasi budaya, kami disuguhi hiburan orkes, cek kesehatan gratis dan berbagai permainan yang menarik.
Saya dan teman-teman memilih untuk menuju ke kain putih panjang yang digelar di lapangan sebagai bukti agen SPAK dengan cara cap tangan anti korupsi. Saya mencelupkan tangan saya ke dalam cat dan hup, telapak tangan saya berada di atas kain putih. Saya Perempuan Anti Korupsi!
Hari semakin siang, saya dan teman-teman memutuskan untuk balik ke pondok. Kami berenam menuju tempat parkir dan mengambil motor masing-masing. Saatnya pulang.
Sampai di pondok, setelah sebelumnya mampir dulu di pasar Prawirotaman untuk membeli buah-buahan, saya istirahat sebentar. Karena nanti sore jam 15.00 WIB, saya mempunyai agenda diskusi di PKKH UGM. Selamat siang, selamat istirahat :)
Diiringi lagu dangdut remix ala senam, kami mengikuti gerakan yang dicontohkan mbak instruktur.
Barisan senam kami teratur dan kompak. Hampir semua dari kami langsung bisa mengikuti gerakan aerobik tersebut. Sehat, bugar dan bahagia nampak tercermin dari gerakan-gerakan kami. Kontras sekali dengan langit yang mendung di atas kami. Kanan-kiri. Gerakan senam kami seperti menari. Sampai tidak terasa kalau gerakan senam sudah sampai pada tahap pendinginan.
Setelah senam selesai, kami istirahat sejenak dan duduk-duduk bebas di lapangan. Sambil menunggu persiapan orasi budaya, kami nyemil snack yang disediakan oleh panitia. Isi snacknya adalah arem-arem dan kacang godhog! "Waaaaah....keren...", puji saya dalam hati. Ini namanya pro swasembada pangan nih. Tidak hanya mengajarkan anti Korupsi, tapi juga menanamkan cinta produk lokal dan budaya merakyat. Salut untuk panitia yang mempersiapkan segala hal dengan detail dan baik :)
![]() |
| selfie bareng sambil istirahat nunggu orasi budaya |
Selain bu Alim, ada beberapa nama yang juga mengisi orasi budaya. Semuanya saya lupa, kecuali mbak Alissa Wahid. Hihihi, maklum, short term memory...
Dalam pidatonya, mbak Alissa mengajak kami -perempuan Indonesia- untuk aktif melawan korupsi. Kenapa perempuan? karena perempuan adalah bagian dari warga negara Indonesia. Jumlah perempuan di Indonesia adalah setengah lebih sedikit dari jumlah total penduduk Indonesia. Kami punya kewajiban dan hak yang sama untuk turut andil dalam memberantas korupsi. Jika kami semua berperan aktif sebagai agen anti korupsi, kami dapat menciptakan Indonesia bebas dari korupsi, minimal 50%.
![]() |
| Simbah putri dan cucunya ikut menyimak orasi budaya dari mbak Alissa Wahid |
Lebih lanjut, Mbak Alissa bercerita mengenai jahatnya korupsi. Akses pendidikan dan kesehatan yang mahal dan tidak dinikmati oleh semua orang, harga-harga kebutuhan pokok yang semakin meningkat, fasilitas publik yang jelek, jalan berlubang yang tidak diperbaiki, dan masih banyak lagi penderitaan yang dialami oleh kita sebagai warga negara, adalah akibat dari merajalelanya korupsi. Dilain pihak, dana yang seharusnya digunakan untuk memperbaiki gedung sekolah yang roboh, biaya rumah sakit bagi warga negara, dan fasilitas umum bagi seluruh masyarakat Indonesia malah dikorupsi untuk membeli mobil mewah, rumah mentereng dan aset pribadi oleh pejabat yang katanya terhormat. Sungguh kejam sekali akibat dan dampak dari korupsi.
Untuk itulah, kita sebagai perempuan Indonesia harus bisa menjadi agen anti korupsi!
Selain sebagai agen anti korupsi, mbak Alissa juga memberi semangat dan dorongan kepada kami, perempuan Indonesia, untuk bisa berdaya dan memberdayakan masyarakat serta lingkungan sekitarnya. Sebagai seorang psikolog, khususnya psikolog keluarga, mbak Alissa menjelaskan secara umum jika perempuan bisa mapan atau sejahtera secara finansial maka keluarganya juga akan sejahtera. Karena perempuan secara psikologis akan memperhatikan dan mengusahakan kesejahteraan anggota keluarganya. Berbeda dengan laki-laki, jika laki-laki kuat secara finansial, mereka akan mengalokasikan hartanya untuk kepentingan dan kebutuhannya sendiri (itu menurut ilmu psikologi lho....). Jadi, kebayang kan kalau seandainya ibu-ibu kita, teman-teman perempuan kita bisa kuat secara finansial, maka keluarganya akan hidup dengan kesejahteraan.
Sebenarnya masih banyak penjelasan yang menarik dari mbak Alissa. Tapi berhubung saya bingung bagaimana menulisnya, jadi hanya itu saja dulu, hihihihihi.
![]() |
| Kesampaian juga foto bareng dengan mbak Alissa Wahid |
Selesai orasi budaya, kami disuguhi hiburan orkes, cek kesehatan gratis dan berbagai permainan yang menarik.
Saya dan teman-teman memilih untuk menuju ke kain putih panjang yang digelar di lapangan sebagai bukti agen SPAK dengan cara cap tangan anti korupsi. Saya mencelupkan tangan saya ke dalam cat dan hup, telapak tangan saya berada di atas kain putih. Saya Perempuan Anti Korupsi!
![]() |
| saya dan cap tangan saya, abaikan sandal jepit saya |
Sampai di pondok, setelah sebelumnya mampir dulu di pasar Prawirotaman untuk membeli buah-buahan, saya istirahat sebentar. Karena nanti sore jam 15.00 WIB, saya mempunyai agenda diskusi di PKKH UGM. Selamat siang, selamat istirahat :)
Krapyak, 25 April 2015










