creativity

creativity
karya salah satu muridku :)

Selasa, 07 April 2015

Dunia Santri Vis A Vis Dunia Seni


Tadi sore iseng-iseng lihat pameran di area pondok. Salah satu tema yang digarap adalah "tradisi" ghosob. Menarik ya...sekat-sekat imajiner antara dunia santri dan dunia seni melebur.

Dari dunia santri, sebuah potret kehidupan dunia santri bisa diramu dan diracik sedemikian rupa hingga menjadi sebuah karya seni.

Pun dari dunia seni. Kegelisahan, keresahan atau pemikiran tentang kehidupan, tradisi dan interaksi manusia yang terjadi di dunia santri bisa tersampaikan melalui kata, gambar, lukisan, ember, atau pun sepatu.

Dunia santri membutuhkan dunia seni untuk melihat, mendengar, membaca, menulis, dan bicara melalui berbagai media dan salurannya.

Sebaliknya, dunia seni juga membutuhkan dunia santri untuk memberi ruh bagi sebuah karya seni agar tak hanya indah, tapi juga bermakna.

Facebook, 31 Januari 2015


Benakku (1)

Sedang berusaha menikmati setiap prosesnya. Karena hidup adalah tentang kumpulan keresahan dan pertanyaan. Bukan larut dalam anggapan orang.
Pencapaian adalah halte sementara, karena masih ada jalan panjang yang harus dilalui. Entah lusa atau seratus tahun lagi. 

Facebook, 10 Februari 2015

Kamis, 26 Maret 2015

Ibuk

Seperti hari ini, pada tanggal dan bulan yang sama di tahun 1990, aku lahir di dunia ini. Pada tanggal, bulan dan tahun itu juga, Ibuk genap berusia 22 tahun, 25 hari. Kala itu, Ibuk melahirkan bayi perempuan yang katanya lucu dan menggemaskan.
***
Ibuk menikah dengan Bapak di usia 18 tahun, usia yang lumrah untuk menikah saat itu. Berawal dari hubungan sebagai guru-murid, Bapak dan Ibuk kemudian menjadi pasangan suami-istri. Tapi tidak seperti pasangan pengantin baru kebanyakan. Setelah menikah, Bapak dan Ibuk masih melanjutkan study alias mondok di pesantren, sehingga untuk sementara waktu mereka hidup terpisah.

Kota Kediri, adalah salah satu kota di mana Ibuk menghabiskan waktu di pondok untuk nderes dan nglalar al-Quran. Sempat kudengar, di kota inilah aku ikut mondok meskipun masih di dalam kandungan Ibuk.

Ibuk hafidhzah sedari kecil; hasil didikan keras tapi mentas dari Mbah Kakung. Aku kurang tahu sejak kapan Ibuk khatam 30 Juz. Entah sebelum menikah, entah setelah menikah. Tapi yang jelas sampai sekarang Ibuk tetap menjaga hafalannya. 

Perjalanan hidupnya sebelum menikah dihabiskan untuk belajar tentang banyak hal. Bapak pernah bercerita, kalau Ibuk dulu bintang kelas; predikat murid terpandai jaman dahulu. Ilmu Shorof dan Nahwu dasar dikuasainya. Sampai sekarang pun Ibuk masih hafal. 

Untuk urusan memasak, Ibuk juaranya. Menjadi anak kedua dari empat bersaudara (yang berhasil hidup), Ibuk dituntut dengan sendirinya untuk bisa memasak. Pekerjaan dapur itu telah Ibuk kuasai dari kecil. Mulai dari masakan rumah sehari-hari, masakan berat ala perayaan, kue kering-basah, aneka kudapan, dan berbagai jenis masakan lainnya. kalau pun itu masakan asing, baru, atau aneh, asal ada resepnya, sepertinya gampang sekali kalau Ibuk yang menyajikan. dan terbukti rasanya Enak se-Dunia. Tapi jangan pernah request ke Ibuk untuk memasak olahan Lele dan Bebek. Ibuk bakal menolak mentah-mentah.

Ibuk sedikit banyak juga bisa menjahit; baik menggunakan tangan maupun dengan mesin jahit. Beberapa kurung bantal dan guling di rumah adalah hasil karya Ibuk. Celana bolong, kancing lepas atau kolor yang sudah kendor juga menjadi obyek reparasinya Ibuk.

Ibuk sempat tinggal di Ibu Kota mengikuti Bapak yang kala itu sedang kuliah di IAIN. Kami bertiga tinggal di kontrakan sederhana di daerah dekat kampus. Tapi, tidak berselang lama, Ibuk dan aku yang masih bayi, kembali ke kampung halaman karena mengalami insiden. Kontrakan kami mengalami kebakaran. Menurut cerita, ada tetangga kontrakan kami yang gordennya terbakar lilin kemudian terjadi kebakaran dan menyebar ke kontrakan sekitarnya. Ibuk saat itu sedang istirahat setelah mencuci pakaian. Melihat api yang semakin membesar, Ibuk buru-buru menggendongku dan berlari tanpa alas kaki keluar kontrakan. Sementara itu, Bapak sedang tidak di kontrakan karena mengajar ngaji di Masjid yang agak jauh dari kontrakan. Mungkin karena trauma, atau karena tidak cocok tinggal di sana, kami berdua akhirnya kembali ke kampung. Nasib membawa Ibuk dan aku kembali ke Pecangaan Wetan, sebuah desa di Jepara.

Tahun-tahun berikutnya, terlebih setelah Bapak wisuda S1 dan kembali lagi ke kampung, Ibuk berperan sebagai Ibu rumah tangga di rumah kecil kami. Segala urusan mulai dari dapur, membereskan rumah, mencuci, menyetrika, belanja semua dihandle Ibuk. Belum lagi mengurus aku, dan dua adikku yang masih ingusan. Benar-benar multitasking.
***
Ibuk, Ibukku yang telah menjadi salah satu sebab aku hadir di dunia ini, telah banyak melalui hari-hari. Sampai detik ini, cerita-cerita tentang hidupnya masih terus berjalan. 

Ibuk, di usia 22 tahun lebih 25 hari; 25 tahun yang lalu, telah melalui proses pendewasaan diri secara alami. Tapi bagiku, sempurna. 

Ibuk telah menjalani fase kanak-kanak dengan penuh semangat belajar dan tanggungjawab. 

Fase remaja juga telah dilalui Ibuk dengan berani berkomitmen membangun rumah tangga bersama Bapak.

memasuki fase dewasa, Ibuk juga telah membuktikan kehebatannya menjadi ibu rumah tangga yang telah dikaruniai tiga anak dengan berbagai cerita dan persoalannya.
***
Ibuk, Ibukku yang selalu menyertai tumbuh-kembangku selama 25 tahun ini dan semoga di tahun-tahun berikutnya.

Ibuk, Ibukku yang telah dan selalu berperan sebagai Ibu, baik 25 tahun yang lalu, sekarang, maupun selama-lamanya.

Ibuk, Ibukku yang selalu mendo'akan anaknya, tanpa perlu diminta, sepanjang waktu.
***
Ibuk, Ibukku sayang....
Hari ini anakmu genap memasuki usia seperempat abad.
Usia dimana telah kau lalui dengan pencapaian gemilang.
Usia dimana kau telah menjadi wanita sempurna.
Usia dimana kau telah menjadi Ibukku.
Usia dimana aku telah lahir dari rahimmu.

Ibuk, Ibukku sayang....
Hari ini anakmu berusia perak.
Hari ini anakmu masih menjadi anak.
Yang masih meraba-raba masa depan.
Yang masih sibuk merangkai impian.
Yang masih memeluk harapan.

Ibuk, Ibukku sayang....
Selamat berulang tanggal, bulan, tahun;
dimana aku kau lahirkan.


Perpustakaan UGM, 26 Maret 2015












Jumat, 26 Desember 2014

Jendela Kaca dengan Gorden Hijau Tua


Jendela kaca dengan gorden hijau tua. Darimu aku bisa melihat dunia di luar sana. Tapi aku hanya menjadi penonton di dalam sini. Menonton siang dan malam yang berkejaran. Menonton jingga yang memudar. Menonton kelam berganti fajar. Kadang kudengar suara jangkrik yang mengerik. Juga suara kucing yang mengeong. Tapi tak kudapati wujudnya. Mungkin di sebelah kanan jendela kaca dengan dengan gorden hijau tua-ku ini. Atau di bawah. Atau di atas. Tapi sepertinya bunyinya bukan berasal dari sebelah kiri. Entahlah. Penglihatanku terbatas oleh bingkai persegi panjang ini. Kucoba merapat sedekat mungkin dengan jendela kaca-ku. Aih...pemandangan di sebelah tetap tak terjangkau penglihatanku. Kupejamkan mataku dan semakin kurapatkan diriku ke jendela kaca-ku. Sia-sia. Hanya bertambah 5 senti. 
Hey...apa itu yang ada di sebelah kanan bawah jendela kaca-ku? Sepucuk ujung ekor berbulu putih. Kuyakini itu kucing, bukan tikus. Sebab tikus pastilah hitam atau kecoklat-coklatan. Ditambah tadi juga sempat kudengar eraman khas kucing. Pasti! Tak salah lagi. Itu kucing. Meskipun aku tidak bisa memprediksikan warna bulu secara keseluruhan. Siapa tahu warna dominannya hitam dan hanya menyisakan percik putih di ujung ekornya. Atau kuning emas bercampur putih. Siapa tahu. Ah...kemungkinan-kemungkinan itu malah membuatku semakin penasaran mencari kebenaran. 
Bagaimana ini? Jarak pandangku tak sampai. Tapi aku penasaran. Apa aku harus meminjam jendela kaca yang lain? Tidak ah...buat apa susah payah melihat dari jendela kaca lain. Toh nantinya aku akan tetap memakai jendela kaca dengan gorden hijau tua ini.
"Warna dominan bulu kucingnya apa?", tanya hatiku, yang kembali mengusik rasa penasaranku. "Apa salahnya sih melihat dari jendela kaca yang lain?", kembali hatiku bertanya agar aku semakin penasaran.
Iya, apa salahnya?

************************************************

Agak asing aku melihat ke luar dari jendela kaca dengan goeden yang entahlah berwarna apa. Mataku masih beradaptasi. Cahaya yang masuk ke jendela kaca dengan gorden yang entahlah berwarna apa ini agak lebih terang dibanding cahaya yang masuk ke jendela kaca dengan gorden hijau tua-ku. Sedetik, lima detik, sepuluh detik, dua puluh detik. Berangsur-angsur penglihatanku normal. Pemandangan yang sama tapi sedikit berbeda. Entahlah aku tak bisa menjelaskannya. Yang aku tahu, dari jendela kaca dengan gorden yang entahlah berwarna apa, aku bisa melihat dengan jelas kucing yang ada di bawah sebelah kiri. Kucing itu berwarna dominan putih, dengan bercak hitam di telinganya.

Krapyak, 26 Desember 2014 

Kamis, 03 Januari 2013

Akhir Tahun yang Indah

30 Desember 2011
Langit mendung menggelayuti Jakarta Timur sore ini. Sisa-sisa uap air yang gagal menyusul rekan-rekannya meluruh ke bumi sesiang ini, memberi sensasi dingin yang semakin menusuk kulit. Jalanan masih terlihat basah oleh air, menggenang malah. Membuat orang-orang semakin buru-buru ingin sampai di rumah, berlindung di zona nyaman untuk beristirahat, melepas penat atau apalah.
Tapi gerimis kecil-kecil yang sekarang menghiasi langit Jakarta tak membuat langkah-langkah kecil kami ­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­­-anak-anak yang di rantau orang- menjadi surut. Senyum masih menghiasi raut muka kami. Semangat masih menghiasi degup jantung kami. Dan bahagia masih menghiasi perjalanan kami. Hanya ada satu pikiran dalam benak kami, semoga nanti malam kami bisa sampai dengan selamat di Ciganjur, bisa nderek haul guru bangsa kami.
Sembari menuju busway yang akan membawa kami ke daerah Ragunan, kami mengisi dinginnya jalan dengan canda dan guyonan khas kami. Berkelakar tentang hidup, kehidupan, bahkan hal-hal sepele. Mengisi perjalanan ini dengan tawa penuh cerita biar tak didera rasa bosan. Sesekali terdengar gelak tawa dari kami, suara bising jalanan, klakson bajaj yang susul-menyusul dengan klakson oplet, sepeda motor, bis umum dan kendaraan pribadi. Suara-suara ini yang mengiringi langkah kami.
Di kejauhan, di sebuah toko bahan bangunan, sayup-sayup terdengar alunan musik yang tak asing ditelinga kami. Shalawat yang didendangkan Maher zein timbul tenggelam beradu dengan musik jalanan. Semakin kami melangkah, lantunan puji-pujian untuk nabi semakin jelas di telinga kami. Duh,,,betapa dakwah yang dilakukan oleh maher zein sangatlah menakjubkan. Cara dakwah yang mengajak masyarakat untuk mengenal dan mencintai shalawat dengan musik yang familiar, menjadi daya tarik tersendiri bagi masyarakat, yang pada akhirnya benar-benar sukses mengangkat derajat shalawat di mata masyarakat umum. Kini shalawat menjadi membumi, menjadi hal yang tidak terkesan kuno dan usang lagi. Shalawat menjadi obat gundah gulana. Shalawat menjadi kebutuhan rohani bagi yang mendengarnya. Berbagai kalangan semakin akrab dengan shalawat. Berbagai kalangan semakin mencintai salawat. Berbagai kalangan semakin menyatu dengan shalawat, barakallah….
Sesore ini, busway dipenuhi oleh lautan manusia dengan berbagai tujuan. Seperti kami, mereka juga terlihat ingin segera sampai tujuan, enggan bergelayutan lama-lama di pegangan busway. Satu dua orang turun di shelter bus berikutnya. Beberapa orang berebut bangku bekas penumpang yang turun barusan. Seorang pria mempersilahkan ibu yang sedang menggendong anaknya untuk duduk duluan. Seorang pria lagi terlihat enggan menyerahkan bangku empuknya dan harus terpaksa berdiri. Kondektur berdiri di samping pintu geser, mengingatkan lagi peraturan baru busway tentang area khusus wanita yang masih banyak dilanggar. Kami masih asyik dengan kelakar kami. Sampai-sampai lupa dengan volume suara yang semakin meninggi. “Ragunan…Ragunan….” Teriak kondektur mengingatkan penumpang. Kami telah sampai tujuan. Buru-buru kami melangkah keluar dari busway, menuju ke shelter Ragunan dan melanjutkan perjalanan ke Ciganjur.
Hari sudah gelap ketika kami sampai di Ciganjur. Tapi suasana ramai tampak jelas terlihat dari jalan gang. Pedagang dadakan berjejer memenuhi kanan-kiri jalan, menambah marak suasana haul ini. Langkah kami mantap menuju majelis. Para penerima tamu, putra-putri telah berjejer rapi menyambut hangat tamu-tamu yang datang berberondong. Rombongan kami pun terpisah menjadi dua. Kami memilih duduk di depan masjid Al-Munawwaroh, melihat podium dari layar LCD proyektor yang disediakan oleh panitia. Tak menyia-nyiakan waktu yang ada, kami ikut larut dalam sambutan-sambutan hangat dari keluarga sohibul bait, teman-teman Gus Dur. Sahabat-sahabat yang datang, memberikan sepatah-dua patah kalimat yang sarat pesan. Bercerita tentang pengalaman hidup bersama Gus Dur. Bercerita sedikit banyak tentang potret Gus Dur. Bercerita tentang pandangan hidup Gus Dur yang banyak memberi inspirasi. Tapi kantuk semakin menyerang pertahanan kami. Satu-dua dari kami berguguran. Sepertinya lelah karena perjalanan lebih berjaya daripada dorongan hati untuk tetap terjaga mengikuti majelis. Hingga sampai pada puncak acara, wayang kulit yang dibawakan oleh dalang dari wayang kampung sebelah begitu menyita perhatian majelis. Mendengar banyak tawa yang membahana membuat kami sontak terbangun. Penasaran dengan sajian yang menghibur ini, kesadaran kami perlahan muncul. Memang kocak dan menghibur sajian wayang kampung sebelah. Sentilan-sentilan terhadap penguasa negeri ini begitu mengena. Sindiran-sindiran terhadap degradasi masyarakat juga begitu pas, tanpa unsur menggurui. Sangat realistis menggambarkan kehidupan dewasa ini, wangun kata orang jogja bilang…..
Akan tetapi tak sampai selesai, kami menyudahi menonton pertunjukan wayang kulit ini. Rasa lelah yang sedari tadi menyerang kami sekarang sudah tidak bisa ditolerir lagi. Dengan langkah gontai kami menuju gedung yayasan yang disediakan untuk tempat beristirahat kami. Sudah saatnya melepas penat. Esok pagi kami harus kembali ke asrama Kayu Putih -rumah animasi kami- untuk melanjutkan kehidupan sehari-hari kami. Selamat Istirahat kawan......=)
-naa-